Updates from uranglapau Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • uranglapau 4:23 pm on July 13, 2010 Permalink | Balas
    Tags: feminisme, minangkabau   

    Feminisme di Minangkabau 

    Oleh Sonya Winanda

    Bicara soal feminisme berarti bicara sesuatu yang baru di Indonesia. Feminisme masih dianggap sebagai “budaya barat” bagi masyarakat kita. Masyarakat kita belum terlalu peduli dengan wacana feminis ini. Jika pun ada, hanya segelintir orang yang benar-benar paham dan mendalaminya. Meski demikian, jauh sebelum feminis dikenal di Indonesia, masyarakat minangkabau telah menerapkannya sebagai bagian dari budayanya. Suku minang memberikan posisi istimewa dan terhormat pada perempuan. Ia adalah pemegang harta benda, pendapatnya pun berpengaruh besar dikaumnya.

    Membaca pemikiran Feminisme memang tidak mudah. Feminisme bukanlah pemikiran tunggal, tetapi terdiri dari berbagai macam pemikiran yang saling berbeda yang terpolarisasi aliran-aliran feminis. Contohnya saja feminisme radikal yang menganggap penindasan terhadap perempuan ditandai oleh kuasa, dominasi, hirarki, dan kompetisi. Menurut aliran ini, sistem patriarkhal tidak dapat dibentuk ulang, tetapi harus dicabut dari akar dan cabang-cabangnya. ”Bukan hanya struktur hukum dan politis partriarkhi saja yang harus dicabut, lembaga sosial dan kultural juga dicabut dari akar-akarnya untuk memberikan jalan bagi pembebasan perempuan ” (Tong: 1998). Selain itu ada juga aliran feminis liberal yang memiliki pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual Meskipun masing-masing aliran feminis berbeda dalam menganalisis sebab dan solusi dari ketertindasan perempuan, namun ada persamaan dalam “semangat perlawanan terhadap dominasi laki-laki”. Feminisme sesungguhnya bertitik tolak dari asumsi bahwa kaum perempuan sering mengalami perlakuan yang tidak adil dalam kehidupan, terutama di bidang sosial, ekonomi, budaya, politik, dan ilmu pengetahuan. (More …)

     
  • uranglapau 3:21 pm on July 13, 2010 Permalink | Balas
    Tags: pandawa lima   

    Mengapa Pandawa Lima ? 

    Oleh Heri Faisal

    “Cut..cut”
    Tikno memotong adegan yang baru saja kuhayati dengan seksama. Yang bahkan Nicholas Cage pun tak kan mampu membuat penjiwaan yang dalam seperti yang kulakukan. Dengan tingkat keseriusan yang melebihi kekuatan ambisi Albert Enstein memecahkan teori relativitasnya. Atau bahkan jauh lebih tinggi dari semangat Gustave Eiffel merancang bangunan tertinggi di Paris. Bahkan pena Paulo Coelho pun belum tentu sanggup merangkai kata menggambarkan getaran gelora jiwaku saat itu. Andai saja Steven Spielberg menyaksikannya, aku yakin ia tak kan ragu menyodori kertas kontrak untuk main di film-filmnya. Tentunya tanpa perlu casting lagi (hahaha pede amat).
    “ah sialan”

    Aku menggerutu sendiri. Sejak awal latihan tadi, sudah hampir dua puluh kali Tikno memotong adeganku. Gerah juga rasanya. Setiap gerakanku selalu salah, selalu keliru. Ingin sekali kujambak rambutnya yang melingkar-lingkar seperti ijuk keriting itu. Sampai tercabut dari batok kepalanya yang lebar seluas nampan. Hingga bersih licin seperti idolanya Roberto Carlos. Dengan begitu ia akan malu, dan tak berani lagi bergaya laksana Riri Riza di hadapanku. (More …)

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal