The Raid : Parade Laga dan Ketakutan

Kiranya amat pantas kita (penikmat film sekaligus orang Indonesia) berbangga hati dengan keberadaan The Raid. Bukan karena sebatas film ini mengundang decak kagum internasional. Bukan pula semata karena film ini mampu menggugah minat banyak pengusaha film dunia untuk membuatnya melalang buana ke berbagai negara. Decak kagum dan ketertarikan internasional hanyalah bonus. The Raid patut diapresiasikan dengan kebanggaan karena membuat kita sadar bahwa potensi asli milik kita bisa menuai decak kagum dunia. Bahwa potensi asli milik kita mampu menghasilkan karya yang amat  berbobot.  Potensi asli milik kita itu apalagi kalau bukan laga, pencak silat.

The Raid muncul dengan mengusung potensi laga, pecak silat di tengah industri hiburan Indonesia yang sedang sibuk-sibuknya mengimitasi ide kreatif industri hiburan negara lain (Korea salah satunya). Ia muncul di saat banyak sineas masih berkubang diantara horor, komedi mesum yang menggelikan dan dangkal. Semoga saja keberhasilan The Raid bisa membuka mata sineas, pengusaha industri kreatif  untuk beranjak dari kubangan dan menggali potensi asli milik kita yang lain. Lalu menyulapnya dengan apik dan menjadikannya layak diterima internasional, sebagaimana  yang telah berhasil dilakukan The Raid.

Lalu apa sebenarnya yang membuat The Raid mengundang decak kagum internasional sebagai film laga, action? Apa yang membuatnya disebut-sebut sebagai salah satu film laga terbaik tahun ini, tingkat dunia? Alasaannya tentu beragam.

Tapi Saya menilai The Raid wajar menuai kekaguman itu karena merupakan film  yang ‘lebih’ dari film laga lain. The Raid adalah sebuah keaslian laga, sebuah karya laga yang nyata, bukan sekedar laga yang dihasilkan dari permainan kamera atau visual effect semata. Ia bukan sekedar imitasi gerak, bukan sekedar pemalsuan gambar, bukan pula sekedar penggantian lakon pemeran.

Silat, laga yang dikoreografikan oleh Iko Uwais dan Yayan  Sunarta adalah asli yang profesional. Setiap jengkal aksi laganya ditampilkan dari sebuah kematangan teknik dan penguasaan gerak, kerja keras, tenaga dan keringat yang sebenarnya. Keahlian laga, pencak silat yang belum tentu dimiliki aktor atau aktris lain di mana pun itu. The Raid adalah parade aksi laga yang utuh dan benar-benar nyata. Setiap jengkal aksi laga yang indah, kejam, gagah dan mengerikan secara sekaligus.

Jangan repot-repot membandingkannya dengan film laga ala mafia Hongkong atau China klasik. The Raid lebih dari itu. Jika pada Mafia Hongkong ada Jackie Chan yang mahir berlaga, jika pada film laga China Klasik ada Wong Fei Hung. Maka pada The Raid sebagian besar aktornya adalah Jackie Chan dan Wong Fei Hung yang keseluruhannya mahir berlaga. Yang  keseluruhannya kejam. Maka silahkan ikut meringis melihat setiap tinjuan, tendangan dan bantingan sepanjang film. Silahkan memekik ngeri melihat tokoh protagonisnya terjungkal kesakitan, atau berdarah-darah. Sepanjang film silahkan merasakan seolah tubuh kita ikut sakit.

Anda yang menggemari aksi laga, kekerasan, pukulan dan tendangan yang ditampilkan dengan penguasaan teknik akan berpuas hati menonton The Raid. Tapi bagi Anda yang ciut hati dan iba akan hal itu silahkan merasakan bahwa Iko Uwais dan sederet aktor lainnya seperti benar-benar kesakitan, bukan sekedar kepura-puraan.

Poin penting lainnya yang membuat The Raid wajar menuai decak kagum karena aksi laga yang terampil dibuat semakin mengundang debar jantung penonton karena dikonsep dengan kengerian. Inilah Horor yang sebenarnya. Bayangkan bagaimana rasa horror dan kengerian yang dirasakan setiap kita menyaksikan adegan pembunuhan berantai ala psikopat. Mengerikan, mendebarkan dan membuat kita sesekali menahan napas karena takut.

Diceritakan bagaimana sekelompok polisi masuk ke sangkar penjahat, sebuah apartemen yang dihuni oleh puluhan  bahkan ratusan penjahat kelas kakap dan kejam berada. Polisi yang jumlahnya tak seberapa ini terkurung dan diteror ketakutan, kengerian dan dibayang-bayangi kematian. Dalam hitungan beberapa menit saja,  jumlah polisi yang dua puluhan itu hanya tinggal hitungan jari saja. Tak cukup sepuluh. Saat para penjahat terbangun dan sadar ada musuh tak diundang masuk ke kediaman mereka. Mereka marah dan membantainya seperti tikus yang harus cepat dimusnahkan.

Jadilah polisi yang tersisa ini (Iko Uwais dkk) dalam ketakutan dan harapan hidup yang sangat tipis mencoba bertahan hidup untuk bisa keluar dari apartemen itu hidup-hidup. Setiap langkah mereka menjauh dari sumber kekejaman penjahat kita akan merasakan kehati-hatian dan ketakutan yang sama. Dan saat para polisi ini ternyata malah masuk ke dalam sangkar penjahat yang lain kita akan ikut terkejut. Saat para polisi ini bersembunyi dalam keadaan terluka dan seolah-olah hampir tertangkap oleh penjahat, kita ikut merasakan terror ketakutan dan kengerian.

Disinilah, pada adegan-adegan ini, horror, ketakutan  yang nyata disuguhkan The Raid. Persis seperti horror dalam film pembunuhan  ala psikopat. Kita ikut merasakan ketakutan, kengerian dan kematian membayang-bayangi tokoh yang bersembunyi dan bertahan dalam sisa tenaga yang semakin terkuras. Kita ikut ketakutan saat mereka seolah hanya menunggu waktu sampai tertangkap saja. Bukankah ketakutan dan kengerian akan lebih terasa saat  sumber terror itu jelas-jelas sedang mencari. Berbeda dengan horror ala hantu dedemit yang hanya datang tiba-tiba dan tak terduga.

Dalam aksi laga yang nyata dan horror ketakutan yang nyata, The Raid menjadi tontotan yang penuh menguras perhatian penonton tanpa sedikitpun detik untuk rasa bosan hinggap.