Dirimu Adalah Apa Yang Kamu Pakai : Sebuah Pertarungan Sosial

Seorang perempuan muda turun dari taksi dengan menjinjing tas bermerk terkenal seharga jutaan rupiah. Sepatu hak tinggi 7 cm membuat ia berjalan lambat melenggak lenggok. Tak jauh darinya seorang remaja sibuk dengan telepon seluler canggih model terbaru, satu di tangan kanan, satu lagi di tangan kiri. Pemandangan seperti ini sungguh sudah menjadi pemandangan biasa. Pemandangan yang terjadi hampir di semua sudut kota di Indonesia. Sekilas terlihat seperti ciri-ciri penduduk negara yang sedang bergegas maju dengan penduduk yang memiliki kantong tebal dan mampu membeli apapun yang diinginkan.

Di zaman seperti ini, istilah ‘Jangan Menilai Buku dari Sampulnya’ memang telah menjadi  istilah usang yang telah kehilangan makna. Istilah ‘Dirimu Adalah Apa Yang Kamu Pakai’  telah dipraktikkan dengan taat. Masyarakat berlomba mengindahkan ‘sampul’ dirinya untuk mendapatkan pengakuan ‘lebih’. Sebuah pertarungan masyarakat yang terus belanjut. Pertarungan yang makin memperlebar jurang si kaya dan si miskin.

Pertarungan ini terjadi dalam berbagai lini masyarkat. Pada hal-hal yang terkesan remeh temeh. Sebagai contoh sekarang segolongan  perempuan rela menghabiskan uang seratusan juta rupiah untuk sebuah tas Hermes, Prada atau Gucci model terbaru,  tas-tas bermerk terkenal tingkat internasional asli impor. Semakin sering mereka terlihat menjinjing Hermes atau Prada model terbaru, semakin ‘tinggi ‘ nilai mereka di mata masyarakat. Semakin mereka merasa dihargai dalam masyarakat.

Di kelas masyarakat dengan tingkat ekonomi yang lebih rendah. Hal serupa juga terjadi. Ambil contoh yang sama, jika perempuan dengan tingkat ekonomi ‘teratas’ menghabiskan tas seratusan juta rupiah untuk satu buah tas saja. Perempuan pada tingkat ekonomi yang lebih rendah membeli tas bermerk sama (Prada, Hermes atau Gucci) yang asli tapi palsu. Dalam artian barang-barang bajakan yang memiliki kualitas tak jauh beda. Tapi harganya pun tergolong mahal, mulai 400 ribu rupiah hingga diatas 5 juta rupiah untuk satu buah tas saja. Pameo  ‘Kamu Adalah Tas Yang Kamu Pakai’ berkembang semakin menjadi-jadi pada dunia perempuan. Sebuah pertaruangan sosial para perempuan ini terus berlanjut seiring dengan pergantian model terbaru tas yang mereka gandrungi.

Hal serupa terjadi pada item-item barang lain. Telepon canggih model terbaru, mobil pribadi model terbaru adalah satu lagi item penilai yang tertanam kuat di masyarakat. Tak terhindarkan dan memaksa untuk diikuti.  Pertarungan sosial tentang telepon seluer canggih adalah salah satu yang paling meluas. Siapa yang memiliki telepon seluler paling canggih dan paling terbaru adalah pemenangnya.

Sebenarnya penilaian semacam ini sudah sangat lama berkembang di masyarakat. Mungkin seiring dengan peradaban manusia itu sendiri.  Di zaman dulu seseorang dinilai dari kasta dan pangkat.  Namun sekarang  penilaian yang mengkotak-kotakan dan naif ini semakin menjadi jadi.  Unsur-unsur penilaiannya semakin banyak, banyak yang bahkan tak layak dijadikan penilai karena terlalu remeh temeh dan tak jelas hakikatnya.

Apa hakikat penilain manusia dari tas yang ia pakai?  Apakah yang bisa dinilai dari seorang manusia melalui tasnya kecuali sikap konsumtif saja? Apa pula yang bisa dinilai dari seorang manusia yang selalu berupaya membeli setiap telepon seluler canggih model terbaru selain lagi-lagi hanya sikap konsumtif dan pamer harta semata?  Sejatinya bukankah item barang, baik itu tas, telepon seluler adalah barang pembantu untuk memudahkan aktivitas manusia? Aktivitas yang tentu saja berbeda-beda. Barang-barang ini pun sejatinya dipilih manusia berdasarkan kebutuhan dan kenyamanan menggunakan masing-masing. Pemilihan yang berlandaskan subjektifitas tinggi.  Lalu bagaimana bisa ia dijadikan standar penilai.

Ibarat telepon seluler, belum tentu semua orang membutuhkan telepon seluler layar sentuh, bisa jadi penggunaan layar sentuh hanya menyulitkan semata. Belum tentu pula semua wanita menyukai tas model Hermes, Gucci atau Prada yang feminim. Bisa jadi ada yang lebih suka tas ransel ala laki-laki untuk memudahkan aktivitasnya. Item-item barang lain pun bersifat serupa. Terlalu subjektif untuk dijadikan standar penilaian apalagi berlanjut menjadi pertarungan yang tiada henti.

Masalah hakikat mungkin saja tak perlu terlalu dikhawatirkan. Toh, bisa saja masyarakat yang punya kantong tebal ini akan membela diri dengan mengatakan : Selagi uang sendiri dan halal terserah donk mau diapakan. Mau dibeli tas segudang toh tak ada salahnya. Bisa jadi tak ada salahnya, tak ada pelanggaran hukum untuk bersikap konsumtif dengan harta sendiri, apalagi harta halal. Tapi pertarungan konsumtif masyarakat itu percaya atau tidak faktanya malah membuat keadaan sosial masyarakat menjadi semakin memburuk. Gejala-gelaja hubungan sosial di dalam masyarakat semakin tas sehat.  Virus konsumtif menyebar luas dan sikap hedonis (sikap mengutamakan kesenangan pribadi semata).

Bisa jadi tak terlalu masalah bersikap konsumtif dan hedonis jika kantong pribadi mampu menopang. Namun bagaimana jika sikap konsumtif dan hedonis ini akhirnya juga dianut masyrakat yang sebenarnya belum mampu untuk konsumtif  masalah lain akan bermunculan. Masyarakat tak akan pernah sampai pada kategori mampu untuk hidup secara ekonomi karena selalu kekurangan. Alih-alih untuk menyisihkan penghasilan untuk cadangan tabungan dana demi hal-hal tak terduga seperti sakit dan bencana. Bisa jadi mereka malah hutang kiri kanan dan terberatkan oleh hutang kredit karena memuaskan nafsu konsumtif.

Lagi-lagi kebiasaan yang mungkin awal mulanya ditularkan oleh masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas ini mau tak mau menyebar ke lingkungan sosial kelas ekonomi di bawahnya. Beberapa pribdi saja di dalam kelas itu tertular akan sangat mudah akan semakin banyak yang tertular. Penilaian ‘Kamu Adalah Apa yang Kamu pakai’ akan menyebar di tingkat kelas ini dan mengakibatkan pertarungan sosial lagi.

Pertarungan inilah yang akan berdampak buruk, sikap tak pernah puas, hedonis dan terbiasa konsumtif bisa melahirkan pribadi yang serakah. Bibit-bibit yang mudah mengidap penyakit korupsi, menipu dan mencari keuntungan dengan cara tak etis.

Apalagi saat ini sikap konsumtif dan pertarungan ‘sampul’ ini juga terjadi pada anak-anak. Mereka tak lagi memamerkan mainan mobil-mobilan atau boneka baru pada teman-temannya. Telepon seluler canggih model terbaru adalah hal wajib yang harus diikuti Semakin terbaru dan canggih mainan ini, semakin si anak dianggap ‘keren’ oleh anak-anak lain. Sadar tak sadar sejak dini sikap pertarungan konsumtif yang akan berkembang menjadi sikap tak pernah puas dan serakah telah ikut pula diwariskan sejak dini.

Dampak-dampak Inilah yang setidaknya patut dikhawatirkan dari sikap konsumtif yang terkesan wajar saja, remeh temeh saja. Kekhawatiran serupa yang harusnya timbul karena penilaian ‘Kamu Adalah Apa Yang kamu Pakai’ yang semakin meluas saja.