Bantuan tsunami Jepang

Saya mendapat pemberitahuan di halaman LinkedIn untuk memberikan bantuan kepada Jepang melalui Amerika Redcross (atau PMI-nya Amerika). Mungkin aneh, jika negara sebesar Jepang masih butuh bantuan, ya tapi itulah dunia. Kita harus saling berbagi dan tolong menolong terutama dalam kesusahan.

Pemberitahuan dari LinkedIn tersebut, memberikan link ke situs American Redcross. Di sana kita akan diminta untuk memberikan bantuan dana sesuai dengan kemampuan kita, minimal 10 US dollar.

Saya jadi ingat ketika bencana melanda Kota Padang, Oktober 2009 dulu. Banyak sekali lembaga asing yang datang untuk membantu. Tentunya ini tanpa ada permintaan khusus dari negara ataupun pemerintah Indonesia. Semua dilakukan atas nama solidaritas kemanusiaan. Semuanya merasa kesedihan, kesengsaraan yang dirasakan warga Kota Padang khususnya, dan Sumbar secara umum.

Tapi, lembaga kemanusiaan tersebut juga bergerak, menolong, secara sukarela. Sehingga terkadang mereka pun harus bertarung dengan diri sendiri, untuk bisa bertahan ketika memberikan bantuan.

Saya ingat, ketika itu ada beberapa lembaga bantuan asing yang mulai kehabisan logistik dan stok dana pun mulai menipis. Mereka mulai kelabakan, dan berupaya mencari bantuan, dan mereka juga meminta bantuan dari pemerintah daerah setempat.

Ketika itu saya sadar, bahwa mereka juga harus hidup, dan harus bisa mempertahankan diri mereka sendiri. Meski sepertinya, mereka menyusahkan, tapi menurut saya ini adalah sesuatu yang wajar. Apalagi mungkin saja, negara asal mereka juga menyumbangkan dana untuk Sumbar.

Oleh karena itulah, setiap daerah di Indonesia terutama yang rawan terkena bencana gempa bumi apalagi bencana tsunami meski memiliki manajemen kebencanaan yang handal dan kuat. Sehingga jika terjadi bencana, semuanya bisa terkoordinir dengan baik.

Jepang negara yang sudah maju, dan bisa dikatakan sudah siap menghadapi bencana seperti itu, mereka tetap harus selalu wasapada. Saya lihat gambar/vidio bagaimana mereka bersikap dan apa yang mereka lakukan ketika gempa terjadi sepertinya memang terlatih. Dan mereka memang siap.

Bencana tidak memilih korbannya. Oleh karena itu sebagai daerah yang rawan bencana, rakyat Indonesia mesti siap menghadapi kondisi seperti nini. Untuk itu sangat perlu pendidikan bencana atau yang juga disebut mitigasi bencana bagi masyarakatnya.

Hidup dan Mati, Tuhan yang menentukan, tapi kita juga diberi kesempatan dan upaya untuk bisa menjalaninya dengan lebih baik dan lebih siap.