Mengapa Pandawa Lima ?

Oleh Heri Faisal

“Cut..cut”
Tikno memotong adegan yang baru saja kuhayati dengan seksama. Yang bahkan Nicholas Cage pun tak kan mampu membuat penjiwaan yang dalam seperti yang kulakukan. Dengan tingkat keseriusan yang melebihi kekuatan ambisi Albert Enstein memecahkan teori relativitasnya. Atau bahkan jauh lebih tinggi dari semangat Gustave Eiffel merancang bangunan tertinggi di Paris. Bahkan pena Paulo Coelho pun belum tentu sanggup merangkai kata menggambarkan getaran gelora jiwaku saat itu. Andai saja Steven Spielberg menyaksikannya, aku yakin ia tak kan ragu menyodori kertas kontrak untuk main di film-filmnya. Tentunya tanpa perlu casting lagi (hahaha pede amat).
“ah sialan”

Aku menggerutu sendiri. Sejak awal latihan tadi, sudah hampir dua puluh kali Tikno memotong adeganku. Gerah juga rasanya. Setiap gerakanku selalu salah, selalu keliru. Ingin sekali kujambak rambutnya yang melingkar-lingkar seperti ijuk keriting itu. Sampai tercabut dari batok kepalanya yang lebar seluas nampan. Hingga bersih licin seperti idolanya Roberto Carlos. Dengan begitu ia akan malu, dan tak berani lagi bergaya laksana Riri Riza di hadapanku.

Sebenarnya aku bisa saja membantah, tak mengikuti gayanya yang sok tahu. Tak mengikuti pandangannya yang masih primitif soal teater. Tapi bertemu langsung Butet Kartaredjasa menjadi senjata ampuhnya untuk menggurui kami soal teater. Sudahlah, aku ikuti saja. Toh dulu aku juga yang berkeras memilih dia menjadi ketua teater kami. Maklum, aku berpandangan Tikno bisa mengatur dan melucon dengan baik. Bahkan lebih baik dari Sujiwo Tejo. Kalau Tejo bisa membuat pejabat, ningrat tertawa dengan lelucon segar menyengat melalui wayang-wayangnya. Maka Tikno bisa lebih, ia bahkan bisa membuat orang gila tertawa lebih gila.
Analisa dan imajinasinya juga tak ada banding. Ayu Utami atau bahkan Remmy Silado sekali pun tak sesporadis dan sekritis dia dalam berimajinasi. Bagi Tikno cukup dengan sekilas melihat wanita dari depan dan belakangnya saja, ia sudah mampu menebak berapa ukuran BH-nya. Bahkan analisanya terhadap ukuran BH anak-anak lokalku pun jarang sekali yang meleset. Itu sudah dibuktikan dengan ketololanku menanyakan langsung ukuran BH gadis-gadis di kelasku, meski sering kali mendapat tamparan dan makian. Tapi selalu saja aku puas dengan angka yang mereka berikan sebagai jawaban. 32, 34 A, 34 B, bahkan, alamak ada pula yang 36 C.
Tikno mendekatiku dengan script lengkap di tangannya. Wajahnya menunjukkan kebengisan yang tiada duanya. Kalau saja tak ada orang di ruang bekas kelas itu, bisa jadi akulah makanan lezatnya siang itu. Matanya nanar menatapku tanpa berkedip, terus melangkah pasti ke depan tanpa menoleh kiri kanan. Sedikit pun tak ada senyum merekah dari bibir tebalnya. Arnold Schwarzenegger, ya persis seperti dalam Terminator itu.

“Jal, kamu masih bisa fokus kan ?” tanyanya. Masih dengan nada bergetar menahan emosi yang meluap-luap. Kuperhatikan urat-urat di lengan dan lehernya melonjak-lonjak seperti belut kepanasan di atas lumpur. Bergerak-gerak liar seakan ingin mematuki wajahku. Kulitnya memerah menahan gebrakan urat-urat tubuhnya yang mendesak ingin keluar.

Aku masih diam mematung. Tak menunjukkan ketertarikan sedikit pun dengan latihan hari ini. Bukan karena naskahnya tak bagus. Tapi ada satu hal yang membuatku tak bisa tampil maksimal seperti kemauan Tikno. Padahal aku sudah berusaha sekuat tenaga meniru gaya khusuk Shah Rukh Khan dalam berakting. Setahuku dia bisa berakting apa pun, dalam kondisi apa pun. Sesuai keinginan sutradaranya. Itulah yang membuat Aditya Chopra dan Karan Johar adu budget untuk memakai jasanya.

Tapi aku kan hanya pemain teater biasa untuk kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Mana mungkin bisa tampil maksimal layaknya artis professional. Ah yang benar saja, gumamku.

“hmm,.. aku”

“sudahlah, sekarang istirahat dulu, kita lanjut nanti siang.” Potongnya.

Tikno mendahuluiku melangkah menuju kantin. Meninggalkan rekan-rekan yang hari ini mengecewakannya. Meninggalkan sejenak amarah yang membuat ia jemu dengan latihan kami siang ini. Yang lain, satu persatu mengikuti, memberi semangat membesarkanku, lalu berlalu menuju kantin.

Aku masih diam, tak mengerti dengan kondisiku. Tak mengerti pula dengan kemarahan sesaat Tikno tadi. Tak paham dengan apa sebenarnya yang terjadi. Aku duduk diam termangu tak menentu di kursi pojok yang berdebu karena lama tak terpakai. Menyilangkan kedua tangan ke dada, melipatnya seperti orang kedinginan. Padahal ruangan itu cukup hangat karena jendelanya berhadapan langsung dengan terik matahari yang makin meninggi menjelang istirahat siang.

Mataku riuh menatap ke luar jendela. Memperhatikan anak-anak kelas satu yang tanpa beban memainkan si kulit bundar di lapangan kecil di halaman sekolah. Mereka bermain enam melawan enam. Yang kalah sudah bertelanjang dada dengan sportifnya. Siap membalas kekalahan untuk membuat lawan mereka lagi yang harus buka baju. Kelompok yang menang hanya senyum-senyum manis seraya tertawa kecil menikmati kemenangan yang harus terus mereka pertahankan sampai pertandingan itu berakhir.

Permainan dimulai kembali. Kelompok yang kalah bersiap menyusun serangan. Bak Michael Ballack, seorang yang jangkung yang kutahu bernama Majid menjadi leader di tengah lapangan. Menggiring bola melewati beberapa pemain lawan, menyisir ke sisi kanan lapangan, lalu melepaskan umpan melambung tepat di depan gawang. Miroslav Klose menyambutnya tanpa ampun, dengan sekali sentuhan kepalanya bola meluncur tajam menembus gawang. “Goal”, aku bersorak datar, hening tak bersuara tersekat di kerongkonganku.

Majid masih menggiring bola, tak tahu harus menendang ke mana. Secepat kilat lawan menyambar bola dari kakinya. Alamak, aku baru sadar, Majid tak sehebat Ballack yang bisa meliuk-liuk manis di tengah lapangan melewati hadangan pemain lawan. Ia baru mencoba belajar menendang bola untuk diumpan ke rekan-rekannya. Tapi Majid bingung harus diumpan ke mana bolanya, karena dari tadi temannya hanya berlari maju mundur di tengah-tengah pemain lawan. Sehingga Majid lengah, dan tak sadar bolanya sudah dicuri lawan.

Aku tertawa sendiri melihat tingkahnya. Sejenak menghilangkan stresku akibat latihan berlebihan tadi. Andai saja pemain bola di Eropa bermain seperti Majid, sudah bisa kupastikan Indonesia yang akan jadi juara Piala Dunia. Tapi ternyata yang bermain seperti Majid adalah orang Indonesia, Majid sendiri pun orang Indonesia.

Dedy mendekatiku, berdiri disampingku, menyodorkan teh botol Sosro yang jadi minuman favorit remaja-remaja di sekolahku. Aku menyedotnya tanpa malu, di sedotan bekas Dedy. Ya, aku, Dedy, Tikno, Ady, dan Sandy sudah terbiasa minum satu sedotan berlima. Tak hanya minum, makan, tidur, bahkan mandi satu bak pun pernah kami lakukan berlima.

“Jal, aku merasa aneh liat kamu latihan tadi..”, Dedy menodongku dengan opininya. Halus, lembut dengan ketajaman duri bayam. Tak tampak tapi terasa menusuk-nusuk ulu hatiku. Aku merasa bersalah walau ia tak menyalahkanku.

Aku tak menggubris celotehannya. Terus saja menyedot pipet tirus warna pink di dalam botol, merasakan dingin teh membasahi sela-sela kering di tenggorokanku. Aku ketagihan menyedotnya, hingga mulutku moncong menimbulkan bunyi gemericak tanda airnya sudah habis.

“Jal”, Dedy melanjutkan. “kamu ditolak Magda ya,.”

“hukkk..” aku tersedak. Pertanyaan Dedy ringan, tapi dalam menyentuh organ paling sensitif dalam tubuhku. Menusuknya dengan belaian tajam tak terkira. Menularkan energi-energi negatif ke seluruh sel syarafku. Aku terkegut.

Dari mana Dedy tahu kalau aku baru saja ditolak Magda. “hm, ngga ada,. Aku cuma tak enak badan”, jawabku sekenanya.
Dedy hanya tersenyum datar, seakan menemukan kucing yang tertangkap basah mencuri ikan milik tuannya. Dan akulah si kucing itu. “aku sudah kenal kamu lama Jal,.” diam sesaat, “aku rasa, ia tak kan sanggup menolakmu”.

“tapi, dia sudah menolakku.. ups, maksudku..”

“ha ha aaa, kamu ketahuaaaan, kamu ketahuaan..he eee”

Spontan saja jawaban yang tak ingin kuucapkan itu meluncur murni dari bibirku. Aku jadi malu sendiri. Alamak, bodohnya aku. Untung di tempat itu hanya ada aku dan Dedy saja. Bayangkan kalau teman-teman sekelasku tahu aku ditolak Magdalena, bisa berabe urusannya. Reputasiku sebagai salah satu playboy di sekolahku bisa rusak.

Dedy masih cekikikan sendiri, “Ded, sudah sudah, aku malu.. tolong kamu jangan bilang ke siapa-siapa, kamu harus simpan rahasia ini, ya ya”, bisikku sedikit memohon.

“aku tak kan bilang, paling-paling nanti aku hanya akan cerita ke anak-anak sekelas, kalau seorang bintang teater SMA 2 ditolak gadis pujaannya, Magdalena, ha ha ha ha ..gimana..” tantangnya.

“Aku serius Ded,. Kalau aku sih tak masalah, tapi bagaimana dengan Magda”. Dedy menghentikan tawanya. “pasti dia merasa malu, kalau anak sekelas tahu dia menolakku”, aku berargumen manis.

“hah, Magda yang malu ? ngga salah Jal. Ha ha.. ngapain dia harus malu kan yang ditolak kamu”, balasnya lagi.

“Iya, tapi kamu kan tahu Ded, gimana reputasiku di teater. Semua cewek kelas satu saja berharap, Sadewa ini yang menembak mereka, huh.., kamu tau si Donna kan ? dia bahkan berharap banget man bisa jalan sama aku..hhh, ga percaya kamu”.

“ya , kenapa bukan Dona saja yang kamu pacari Jal..”

“masalahnya kan kamu tahu man, sense of love. Aku tertariknya sama Magda, lah ya mau gimana lagi.. tapi sudahlah, aku ga mau berurusan dengan yang namanya cinta, cinta lagi. It’s be end from this day.,”, terangku.

“benar neh.”, tanya Dedy “kalau aku bantu gimana”,

“apa ?” aku serius menatap Dedy, berharap tak salah dengar. Dan berdoa ia tak main-main dengan ucapannya.

“kamu serius Ded..”, tanyaku.

“haa munafik kamu Jal, bilang aja kalau kamu cinta mati sama Magda,. Ha ha ha ha ..”, Dedy menertawaiku. Membuat wajahku merah padam untuk beberapa lama. Tapi selanjutnya aku juga tertawa tak peduli lagi dengan perasaanku.

Tulisan asli dapat dilihat di blog resmi Heri Faisal di http://herryfaisal.blogspot.com/2010/06/mengapa-pandawa-lima.html