Feminisme di Minangkabau

Oleh Sonya Winanda

Bicara soal feminisme berarti bicara sesuatu yang baru di Indonesia. Feminisme masih dianggap sebagai “budaya barat” bagi masyarakat kita. Masyarakat kita belum terlalu peduli dengan wacana feminis ini. Jika pun ada, hanya segelintir orang yang benar-benar paham dan mendalaminya. Meski demikian, jauh sebelum feminis dikenal di Indonesia, masyarakat minangkabau telah menerapkannya sebagai bagian dari budayanya. Suku minang memberikan posisi istimewa dan terhormat pada perempuan. Ia adalah pemegang harta benda, pendapatnya pun berpengaruh besar dikaumnya.

Membaca pemikiran Feminisme memang tidak mudah. Feminisme bukanlah pemikiran tunggal, tetapi terdiri dari berbagai macam pemikiran yang saling berbeda yang terpolarisasi aliran-aliran feminis. Contohnya saja feminisme radikal yang menganggap penindasan terhadap perempuan ditandai oleh kuasa, dominasi, hirarki, dan kompetisi. Menurut aliran ini, sistem patriarkhal tidak dapat dibentuk ulang, tetapi harus dicabut dari akar dan cabang-cabangnya. ”Bukan hanya struktur hukum dan politis partriarkhi saja yang harus dicabut, lembaga sosial dan kultural juga dicabut dari akar-akarnya untuk memberikan jalan bagi pembebasan perempuan ” (Tong: 1998). Selain itu ada juga aliran feminis liberal yang memiliki pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual Meskipun masing-masing aliran feminis berbeda dalam menganalisis sebab dan solusi dari ketertindasan perempuan, namun ada persamaan dalam “semangat perlawanan terhadap dominasi laki-laki”. Feminisme sesungguhnya bertitik tolak dari asumsi bahwa kaum perempuan sering mengalami perlakuan yang tidak adil dalam kehidupan, terutama di bidang sosial, ekonomi, budaya, politik, dan ilmu pengetahuan.

Suku minangkabau merupakan satu-satunya suku bangsa di Indonesia dan satu dari 10 suku bangsa di dunia yang menganut sistem matrilineal yang menarik garis keturunan dari ibu. Dalam sistem matrilineal ini, untuk menentukan tempat tinggal suami-istri, menganut sistem matrilokal. Dalam adat Minangkabau, yang berkuasa dan bertanggung jawab dalam sebuah rumah tangga adalah ibu yang didampingi oleh mamak (saudara laki-laki ibu), sedangkan ayah hanya sebagai tamu. Dalam perkawinan, menurut adat Minangkabau yang meminang bukan laki-laki atau keluarganya, akan tetapi pihak perempuan. Begitu pula dalam pembagian harta warisan suku yang jatuh pada kepada perempuan, sementara kaum laki-laki tidak mendapatkan bagian apa-apa. Perempuan menempati kedudukan dan hak-hak istimewa dalam adat Minangkabau. Ini bertujuan untuk menjaga keutamaan dan kehormatan perempuan.

Sistem matrilineal ini memberikan ruang dan hak-hak bagi kaum perempuan. Perempuan memiliki akses yang besar masuk ke ruang publik karena perempuan minang memiliki properti yang memadai. Perempuanlah yang memegang dan mengelola harta benda bukan laki-laki. Perempuan pun bisa menjadi pemimpin. Karena dalam sejarahnya, perempuan memang pernah memimpin di (kerajaan) Minangkabau. Ia disebut Bundo Kanduang. Bundo kanduang adalah ibu sejati yang memiliki sifat-sifat keibuan dan kepemimpinan (H. Idrus Hakimy).

Namun jika kita benar-benar membuka mata dan melihat kenyataannya sekarang, masyarakat matrilineal di minangkabau pun berangsur angsur berubah menjadi masyarakat yang patriarkis. Hal ini sejalan dengan dianggap pentingnya pekerjaan dan produksi laki-laki. Laki-laki kini dianggap memiliki sesuatu yang lebih bernilai daripada yang dimiliki perempuan. Selain itu, arus modernitas juga memudarkan perempuan dalam sebuah kaum. Kemudian ia berangsur-angsur dilupakan.

Oleh sebab itu feminisme sebagai sebuah spirit dan gerakan penyadaran akan posisi perempuan yang subordinat dari laki-laki, masih dibutuhkan oleh perempuan Minang. Namun faham feminis ini tidak ditelan bulat-bulat begitu saja. Kita harus secara cermat dalam membawa feminisme yang lahir di Barat masuk dalam pemikiran perempuan di Indonesia. Feminisme harus diberikan apresiasi namun tetap kritis dalam pengimplementasikannya, terutama dalam konteks kebudayaan Indonesia.

Tulisan asli dapat dilihat di blog Sonya Winanda