Surat ‘Tuk Maya

Hari ini, Mei mencintai Maya. Tak jemu memandang wajah putihnya yang bercahaya, namun datar dan kaku.

Sering-seringlah memandangku, ambillah aku, debarkan jantungmu di dalam semestaku. Kemarin kau telah lihat juraian hujan. Kau membencinya. Sebenarnya dalam setengah bimbang, apakah hujan yang kau benci atau tuts A?

Ah, Maya, jangan kau kotakkan aku di dalam kardus untuk melindungiku dari hujan.

Begitulah, Mei selalu mencintai Maya bukan hanya saat Mei menjadi bulan lainnya. Namun, Maya tidak tahu tentang tuts A, B, C, ataupun Z yang tengah dipasungnya. Hingga ia menulis surat beramplop merah darah.

Dear Maya

Tiada maksudku berbohong. Telah kusalin jejak hatiku untukmu, termasuk tuts A. Bukankah itu yang kau tanya padaku belakangan? Sungguh Maya, aku telah memasungnya, karena ia membuatku kehilangan akal.

Namun, kala itu aku lebih memilih bercerita pada seorang berambut lancip. Karena ia mau menanggapiku, berbicara padaku, tidak sepertimu, yang hanya beku menyimpan semua kalimatku.

Maya ku…

Maya, cintaku sungguh beda dan kaku. Sepertimu dan cintamu. Kau tahu seberapa banyak tinta karyaku yang hijau. Namun tak pernah kugunakan tuts A, B, C ataupun Z untuk melumurkan cat hijau. Lebih baik rahasia itu kau simpan di dalam ruangmu yang terisolir.

Dia kupasung karena terlalu menggoda sepertimu. Malah ku buat cetakan khusus untuknya yang sesuai dengan ukurannya. Agar ia tidak tenggelam dalam hujan. Namun, Maya, aku sedih, ia takkan mau repot menerka tentang ku, tentang karyaku.

Karena itu, ia kupasung dalam cetakan khususku.

Sudahlah Maya ku…

Dia telah membatu dan mengeras dalam bingkai yang kubuat. Mencengkeram erat seperti sel kanker. Kau takkan bisa mencabutnya, membongkarnya. Jika kau paksa mencabutnya, kehidupanku juga kan tercerabut.

Sekarang kau pasti mengerti. Maya ku… Malam ini kurenungi garis katamu dengan makna. Dengan itu rasanya semua bebanku meledak menjadi partikel murni.

Dear Maya… Jangan takutkan, apapun itu…