Jangan Mengkritik Kalau Hanya untuk Mengecam

images1
Imam Ali bin Abi Thalib as, mengatakan: “Benturkan pandangan kalian satu sama lain, niscaya kalian temukan kebenaran!”. Ada semangat besar dalam mencari kebenaran yang terkandung di dalam kata mutiara itu. Bukan hanya sekedar berdiskusi, berdialog, dan berdebat, berbagi atau bertukar pikiran, tetapi juga harus siap berpukul-pukulan pandangan sekeras dan sealot mungkin, bukan lagi membenturkan, kalau perlu bahkan juga menghantamkan. Dan kritik selalu menjadi semen perekat yang tak terelakkan.

Kritik sering kali di artikan orang sebagai protes dan sanggahan dari sesuatu yang tak dapat diterima. Bila kita perhatikan di dalam KBBI, kritik memiliki arti: kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dsb. Dari pengertian ini, dapat kita simpulkan kritik bukanlah wujud dari protes semata, melainkan membutuhkan pertimbangan dan solusi untuk yang dikritisi.

Ada dua kebenaran tentang kritik. Semua orang adalah pengkritik (setidaknya sesekali) dan tak ada yang menyukai pengkritik (sekali pun tidak). Kadang-kadang pengamatan yang kita sampaikan dengan niat membantu bisa saja diterima orang sebagai penghakiman. Dan, kalau kita tidak hati-hati memilih kata, yang kita niatkan sebagai kritik membangun bisa saja malah membuat keadaan menjadi porak-poranda.

Padahal asal kata kritik itu sendiri dari bahasa Latin, yaitu cretia yang berarti memilah dan menerangkan. Yakni, kritik lebih merupakan sebuah usaha bagaimana seseorang dapat menunjukkan; mengurai dan memilah titik-titik positif dan negatif, sekaligus. Maka itu, suatu kritik menjadi proporsional dan benar-benar wajar tatkala disampaikan untuk mencari titik-titik itu sehingga tidak terkesan cerewet dan sewot, serta menimbang bobotnya masing-masing sehingga tidak mesti selalunya berakhir pada penjungkirbalikkan. Di sini kritik menemukan nilainya yang berkeadilan. Jadi, apa yang lebih asosiatif dari kata itu adalah distorsi yang tidak kecil

Tak jarang si pengkritik malah menjadi si pencela. Kenapa dikatakan sebagai si pencela? Karena dalam menyampaikan kritiknya, si pengkritik sering terjerumus pada penyampaian dengan menggunakan kata-kata tajam. Meski pun si pengkritik berniat memberikan saran kepada yang dikritik. Buka berarti tidak boleh memberi saran kepada orang lain. Tapi, dibutuhkan keterampilan komunikasi yang baik untuk mengkritisi orang lain. Pastikan kata-kata yang akan disampaikan kepada orang yang dikritik tidak akan menyinggung perasaannya. Dengan niat yang tulus untuk memberi saran dan pertimbangan bukan berniat untuk memojokkannya.

Maka kritik benar-benar sebuah amanat yang mesti ditunaikan oleh pelaku kritik, sekaligus janji yang semestinya dinantikan oleh objek kritikan. Pada titik ini, kritik jadi mazlum kalau harus diwaspadai saja. Tampak sekali misalnya, kita yang dikritik ada di antara cemas dan puas, dan kita yang mengkritik pun ada di antara puas dan cemas pula. Sekali lagi, kritik sungguh menampakkan nilainya yang berkeadilan. Posisi kita sebagai objek kritikan sebenarnya –kalau tidak lebih nyaman- sama dengan kita sebagai subjek.

Bagi kita yang dikritik saatnya untuk membuktikan bahwa apa yang dikataka orang itu salah dengan cara melakukan yang terbaik. Dan untuk si pengkritik harus benar-benar berempati pada orang lain__kita tak akan terburu-buru menghakimi mereka dan menawarkan kritik hampa.