Jam Gadang ‘Rusak’

jam-gadangJudul sengaja didramatisir, untuk menunjukkan ketidaksetujuan saya dengan ditutupnya Jam Gadang Bukittinggi sebagai Ikon pariwisata Sumbar bahkan Dunia. Rencana penutupan pada hari Rabu (31/12) yang dilakukan para atlet pemanjat tebing Kota Bukittinggi. Selamat bagi mereka karena punya rekor panjat yang tak akan terlupakan.

Biarlah para climber tersebut, sekarang kita bercerita tentang penutupan jam gadang dengan menggunakan marawa (lambang Minangkabau yang memiliki tiga warna itu, merah, kuning, dan hitam, seperti bendera Jerman).

Kata Walikotanya, Pak Jufri, melalui beberapa dinas terkait, menurutnya karena Bukittinggi tidak mampu untuk mencarikan solusi bagi pariwisatanya, jadi dibuat agak fenomenal dengan cara menutup Jam Gadang. Tapi saya tidak lantas percaya dengan hal ini, karena masih beredar dari mulut ke mulut, namun bukan sembarang mulut melainkan orang-orang penting di kota itu.

Saat ini saya ingin beropini tentang penutupan Jam Gadang itu. Sangatlah tidak bagus ataupun pilihan tepat, terlepas apapun alasannya. Ya, kenapa juga jam gadang di tutup, lantas orang-orang yang belanja di Pasa Ateh, yang tidak punya jam di tangan mereka lantas mereka mau lihat apa untuk melihat waktu. Kalau bertanya tentu tidak mungkin, karena malu bertanya dan ingin jalan-jalan. Padahal mereka harus pulang tepat waktu. Banyak kerugian yang dirasakan satu orang. (wah kayaknya mulai jauh pembahasan).

Tapi yang pasti, para turis atau pun wisatawan lokal yang biasanya mengitari jam gadang cuman untuk memastikan jam berapa tentu juga tidak lagi bisa. Karena setiba di sana mereka hanya melihat jam yang pakai salempang. Halah.

Eits. Penutupan kan cuman dilakukan satu hari itu saja. Siang hari di tanggal pertama tahun baru tersebut sudah dibuka lagi. Nah lantas untuk apa ditutup? Bikin geram aja neh Pemkonya.

Kita lihat nanti aja, apa benar Pemko bisa memecah konsentrasi massa agar jangan cuman di Jam Gadang tapi juga di Lapangan Kantin. Untuk itu pemko bekerjasama dengan sebuah perusahaan rokok mengadakan konser musik lokal di Lapangan Kantin. Hahaha, meski tidak begitupun dari tahun baru sebelumnya juga seperti itu kalee. Bagi orang yang tidak ingin ke Jam Gadang (karena takut tergencet, atau apalah) mereka akan pilih tetap di Lapangan. Tapi jumahnya sangat kecil.

Sebenarnya juga ada ide yang bagus dari Pemko ini. Mereka membatasi kendaraan masuk. Ini solusi yang pantas. Baiknya tidak hanya 1km dari jam gadang. Tapi semua akses ke pusat kota dalam radius 3km ditutup, terutama kendaraan roda empat.

Sudahlah kita lihat saja nanti, apakah Jam Gadang tidak dikunjungi lagi. Atau malah kedatangan kunjugan yang berlebih. Tapi saya rasa kembang api tetap menyala di sana. Saya yakin itu. Hahahaha🙂