yang terlupa dengan AGAMA

Helaan Nafas di Atas Sajadah

Sekelebat terlihat seorang Pak Tua. Keadaannya hampir sama dengan pondok reotnya. Badannya kusut kering. Kulitnya yang terbakar sudah kendor. Bergaris di sana- sini. Bajunya pun seperti baju pekerja kasar, awalnya berwarna putih namun sekarang tampak seperti lumpur sawah. Namun matanya masih seperti dulu, bersih dan masih dapat melihat jelas. Dan ketika ia tersenyum masih tampak gigi putihnya berbaris tinggal 3 di atas dan 4 di bawah.
Ia berjalan menelusuri jalan yang terbentuk di antara semak-semak di depan pondoknya itu. Tampaknya menuju sawah yang saban hari tak kunjung selesai dikerjakannya.
Pondok tua itu ditinggal begitu saja. Ia tak peduli. Kalaupun ada pencuri, sudah tak ada peralatan untuk bekerja yang dapat diambil pencuri. Mulai dari parang, sabit, cangkul bahkan alat yang biasa digunakan untuk dia membajak sawah pun sudah berkarat. Siapa yang mau.
Dulu pondoknya lain. Sekarang mulai condong. Penyangga dari bambu yang berwarna kecoklatan pudar mulai tak kuasa menahannya. Hampir rubuh kalau-kalau disenggol anjing Mak Kayo yang datang mengendus-endus di antara semak di sekitar pondok. Daun beringin rindang di tepi ngarai pun membuat halamannya semakin merimba. Belum lagi rumput-rumput yang tumbuh tanpa segannya, walau tak pernah diharapkan.
Ia tak pernah merisaukan hidupnya, tak salat dan tak permasalahkan soal tuntutan agama namun ia hanya berkeinginan untuk tetap dijenguk oleh anak dan cucunya.
“Tak perlu Bapak ada di rumah ini lagi. Untuk menghidupi aku dan anak-anakku saja suamiku sudah tak sanggup,” kata-kata itu selalu terngiang di telinganya yang mulai tak berfungsi lagi.
Semenjak kata-kata itu keluar dari mulut anak sulungnya, ia memilih untuk menghuni pondoknya di tepi ngarai di persawahan tempat ia biasa menanam padi untuk menghidupi anak dan mendiang istrinya. Pondok yang dulu masih berdiri megah di antara pondok-pondok lain yang ada di persawahan itu kian hari makin menua, seiring dengan menuanya usianya. Dan tak ia sadari, ia pun sudah 10 tahun tinggal di pondok itu. Dan usianya sudah kepala 7. Usia yang sulit ditemukan di zaman modern seperti saat ini. Tak pelak kalau sudah tak ada lagi tenaganya untuk sekedar membersihkan halaman dan pondok itu. Itu pun menjadi salah satu alasan ia tak lagi menginjakkan kaki ke mesjid bahkan sekedar melaksanakan salat wajib saja kakinya tidak kuat “katanya”. Sisa-sisa tenaga hanya digunakannya sedikit demi sedikit untuk mengolah sepetak sawah yang sudah dua bulan tak jua dapat ia selesaikan. Dibersihkan sisi kanan, sisi kirinya sudah merimba. Begitu sebaliknya.
“Gaek, berhenti dulu,” sorak Mak Kayo dari ujung petak sawah yang dikerjakannya.
Mak Kayo adalah orang terdekat yang pondoknya berada sekitar 100 meter dari pondok Gaek. Gaek biasa ia dipanggil. Di Minang gaek itu berarti tua, sesuai dengan keadaannya. Mak Kayolah yang selalu membagi jatah makan siang kepadanya. Biasanya Mak Kayo memang selalu meminta istrinya membungkus nasi lebih agar bisa ia bagi dengan Gaek.
Gaek yang lelah langsung menuju Mak Kayo, selain untuk menjawab teguran Mak Kayo juga untuk mengambil kantong asoi yang dibawa Mak Kayo untuknya. Itu jatah makan siangnya. Dia biasa makan satu kali saja sehari.
***
“Bapak makan saja nasi dingin di atas meja itu, nasi yang baru masak itu untuk suamiku,” kata Sutinah ketus kepada Gaek.
“Aku tidak bisa makan nasi keras itu Sutinah, kau kan tau kalau aku sudah tak punya gigi lagi untuk mengunyah.”
“Bapak memang bisanya cuma merepotkan saja. Untung Mak sudah tidak ada, kalau tidak berlipat ganda yang akan merepotkan ku.”
“Ya Allah, kenapa kau berkata begitu Sutinah? Bukankah Emak yang telah melahirkan kau dan adikmu ke dunia ini. Kan sudah kau rasakan susahnya melahirkan. Bertaruh mati.”
Sutinah diam. Namun tak berarti ia tersadar dengan perkataan Bapaknya.
“Dan aku, aku yang berjuang melawan panas dan hujan untuk dapat menghidupimu dan adikmu.”
“Aku tak pernah minta dilahirkan,” hardik Sutinah.
Kata-kata itu seakan membuat semua yang mendengar terdiam. Bahkan bunyi angin yang berhembus pun menjadi berisik. Gaek berpikir, apakah membesarkan anak yang dititipkan ilahi adalah kesalahan? Batinnya tak mampu diam.
Gaek pun takut, masuk ke bilik 2×2 yang terletak di samping dapur di bagian belakang rumah. Seperti tempat barang rongsokan saja. Gaek tak pernah merisaukan kenapa ia diletakkan di ruangan yang biasa digunakannya untuk menyimpan perkakas untuknya bekerja di sawah dulu. Ketika dia menjadi orang yang disegani karena selalu menyumbangkan beras kepada fakir miskin tiap tahunnya.
“Ada apa lagi Sutinah?” tanya Menan suaminya saat sampai di rumah.
“Kenapa selalu saja ada keributan di rumah ini?”
“Aku kesal dengan Bapak, dulu dia yang memaksa aku menikah dengan suami sepertimu, bahkan aku dipasung agar tak lagi bertemu dengan kekasihku yang jauh lebih kaya darimu. Dan sekarang aku harus menjadi tukang cuci untuk menambah kekurangan gajimu sebagai garin yang jauh dari cukup itu.”
“Astagfirullahal azim, kenapa aku pula yang jadi kau maki-maki Sutinah? Bukankah aku cuma meminta agar tak adalagi keributan di rumah ini? Dia ayah mu.”
“Semuanya memang saling bertali-tali kan? Dan tak perlu aku jelaskan lagi.”
Gaek mendengar perkataan Sutinah dan menantunya dari bilik berukuran 2×2 sambil berbaring di atas dipan yang sudah reot. Itulah yang paling ditakuti Gaek. Punya anak perempuan yang sangat keras kepala. Sedangkan adiknya si Baron tak kunjung pulang semenjak meninggalkan rumah untuk merantau ke Jakarta. Gaek masih ingat kalau saat pergi, si Baron berusia 20 tahun dan ia berusia 50 tahun namun sakit-sakitan sehingga tak bisa bekerja.
Gaek tak dapat menyesalkan yang terjadi. Sutinah, anak sulungnya itu dulu suka huru-hara tak menentu, melalaikan salat padahal dia sudah menyekolahkan anaknya di sekolah agama, gonta-ganti pacar, dan berteman dengan orang-orang berandalan. Masyarakat kampung pun selalu mempergunjingkannya. Bahkan untuk memperlihatkan mukanya kepada masyarakat pun Gaek sudah tak berani lagi. Saking malunya ia dengan perangai anak gadisnya.
Sutinah begitu karena tidak ada ibunya yang mengayominya. Dan Gaek sibuk mengurusi kekayaan serta sawah yang berhektar-hektar. Mengurus penyaluran beras ke fakir miskin dan panti asuhan.
”Mengherankan juga kenapa bisa anak dari seorang juragan tanah yang baik hati dan taat agama itu bisa membelakangi kiblat,” sentilan semacam itu sering keluar dari mulut para tetangga. Hal itu terjadi ketika Sutinah tertangkap basah di sudut taman desa sedang bercumbu dengan seorang pria. Masyarakat begitu geram dibuatnya. Kemudian Gaek memasung Sutinah dan lantas menikahkannya dengan seorang garin desa. Namun setelah peristiwa itu, kesehatan Gaek menurun tajam. Kekayaan dimakan oleh biaya pengobatannya. Dan yang tinggal hanya rumah dan sepetak sawahnya. Bahkan iman dan agamanya pun dibawa lalu oleh penyakitnya itu. Gaek pikun akan agamanya.
Sekarang ia hanya bisa menyesalkan dirinya yang tak dapat menanamkan agama di dada anaknya serta menjadi ayah dan ibu yang baik untuk anak-anaknya.
“Kenapa Tuhan terlalu cepat mengambilmu Aminah?”
“Walaupun kau telah berganti tempat dengan Baron, namun aku tak kan sanggup kehilanganmu. Dan sekarang aku tak mampu menjaga anak-anak kita, bahkan untuk memberi mereka makan pun aku susah,” lirih Gaek.
Rasa menyesal Gaek menjadi pecahan beling di dadanya. Sudah tak adalagi tenaganya untuk bekerja. Makanya Sutinah merasa tak sanggup untuk menghidupi Bapaknya yang hanya sebatang kara itu.
***
Malam itu, semua sudah hening. Cuma terdengar suara lolongan anjing di halaman rumah. Gaek masih meringkuk di bilik kecil di samping dapur tanpa selimut. Sambil menahan dinginnya udara dan menahan perut yang masih saja meronta meminta sesuap nasi. Sejak kemarin malam Gaek belum makan. Pasalnya ia tak sanggup menahan kata-kata Sutinah saat ia mau mengambil nasi. Sedangkan nasi dingin, sudah diambil Menan untuk makanan anjing, yang tinggal hanyalah nasi yang baru dimasak Sutinah, yang asapnya masih mengepul dan baunya yang wangi menyengat hidung. Gaek begitu takut untuk mengambil nasi itu. Ia lebih baik menahan laparnya dengan berbaring tidur di bilik mungilnya.
Namun malam itu Gaek benar-benar tak tahan lagi. Dia merangkak menuju dapur untuk mencari sesuap nasi. Agaknya tikus-tikus juga sedang mengikuti jejaknya. Berusaha keluar untuk mencari makanan. Ketika dilihat Gaek, di atas meja tak ada lauk sama sekali. Dibukanya periuk nasi. Tinggal sebongkah nasi yang keras dan sedikit menghitam karena gosong. Dirogohnya nasi itu untuk dipindahkan ke piring yang sudah dipegangnya. Dan tak sengaja, tangannya menyenggol tutup periuk sehingga jatuh ke lantai dan juga membawa serta gelas jatuh.
“Prak!”
Gelas itu pecah berkeping-keping dan gelindingan tutup periuk menambah keriuhan malam itu. Sutinah terkejut alang kepalang. Langsung bangun dan menuju dapur. Ketika dilihatnya Gaek sedang di dapur dan menjadi penyebab keributan itu, Sutinah pun marah alang kepalang. Sampai ke ubun-ubun darahnya.
“Apa yang Bapak lakukan di sini?” tanya Sutinah membelalakkan mata.
“Lihat! Gelas ku pecah. Dan Bapak sudah membuat tidur ku terganggu.”
“Bapak cuma bisa bikin susah!”
Gaek hanya diam. Menahan sumpah serapah darah dagingnya.
“Tak perlu Bapak ada di rumah ini lagi. Untuk menghidupi aku dan anak-anakku saja suamiku sudah tak sanggup.”
Gaek terhentak mendengar perkataan Sutinah.
“Coba kalau masih ada Baron di rumah ini, pasti setidaknya masih ada yang akan membelanya” Gaek membatin.
“Bapak akan pergi Sutinah tapi tidak malam ini, biarkanlah Bapak menunggu pagi di rumah ini dulu.”
“Terserah Bapak, pokoknya ketika bangun besok aku tak mau lagi melihat wajah Bapak di rumah ini.”
Sutinah pun berlalu meninggalkan Gaek. Gaek terdiam. Matanya basah. Dadanya dipenuhi tancapan peniti kecil.
”Allah benar-benar tak adil, sia-sia saja selama ini aku taat pada-Nya. Namun apa yang aku punya diambil-Nya. Istri, anak-anak…..semuanya,” seketika Gaek menjadi teman setan. Tak adalagi iman di dadanya untuk melawan setan itu.
***
Gaek tersentak, tak perlu lagi ia menyesali yang terjadi. Namun bayangan kejadian itu tetap saja hadir di setiap malamnya. Mungkin karena tak ada penghuni lain selain ia dan peliharaan pak tani yang ditinggal.
Gaek pun menutup mata, memaksakan untuk ia bisa merasakan tidur indah. Gaek ingin sekali tertidur pulas, seperti yang ia rasakan saat masih ada istrinya dan hidupnya masih berkecukupan.
Setelah adzan subuh ketika pagi menjelang. Gaek mendengar teriakan Mak Kayo memanggilnya.
“Gaek sudah bangun? Hari sudah pagi Gaek”
Gaek keluar.
“Aku sudah bangun dari tadi Kayo. Kenapa pagi sekali kau datang hari ini Kayo?”
“Aku sengaja datang pagi-pagi. Istriku membuat lontong gulai dan ia ingin Gaek mencicipinya.”
“Terima kasih. Kalian baik sekali. Tapi sudah lama juga aku tak melihat istrimu. Kenapa dia jarang sekali datang ke sini Kayo?”
“Istriku sekarang berjualan di pasar, pulangnya sudah sore hari. Ia tak punya waktu lagi untuk ke sawah ini Gaek. Namun istriku itu selalu berpesan agar Gaek bisa menghabiskan hari tua Gaek untuk bersujud kepada Allah. Walau sesering apapun aku mengatakannya, tak pernah Gaek indahkan.”
“Tak apalah, bagus kan untuk membantu keuanganmu. Agar kelak kau tak jadi penyesalan bagi anak-anakmu,” hanya itu yang terlontar dari mulut Gaek.
Mak Kayo paham sekali dengan apa yang dimaksud Gaek. Gaek sudah pernah bercerita soal itu. Itulah sebabnya kenapa Mak Kayo selalu memberi Gaek makanan dan mengingatkan gaek akan Allah. Mak Kayo tak ingin Gaek meninggal tersia-sia begitu saja. Pernah Mak Kayo menawarkan untuk tinggal di rumahnya, namun Gaek menolak. Gaek tak ingin merepotkan.
Gaek pun duduk di pematang. Mengajak Mak Kayo berbincang-bincang.
“Hari masih pagi, aku ingin sekali berbincang-bincang denganmu Kayo.”
“Mmmmmmm” Mak Kayo tersenyum mendengar penuturan lelaki tua itu.
“Kenapa Gaek berkata seperti itu. Sesungguhnya saya mau kapan saja bersenda gurau dengan Gaek. Tapi apalah daya, pekerjaan dan tuntutan hidup yang memaksa.”
“Tidak, saya hanya ingin sekali berbicara denganmu hari ini Kayo.”
“Bicara apa Gaek?”
“Hidup itu tak mudah. Terkadang kita harus berjuang dan mempertaruhkan sesuatu. Dan aku telah gagal untuk itu. Bahkan untuk membawa anak gadis ku menjadi orang yang baik saja aku tak bisa. Begitu pula anak lelaki ku. Mungkin karena terlalu malu mendapat ayah seperti aku makanya dia pergi begitu saja. Aku tak mampu menghidupi mereka. Karena penyakit yang datang silih berganti. Demam lah, usus buntu, alergi, dan tangan ku juga pernah mati sebelah. Tapi kenapa umurku masih panjang juga. Semakin lama aku semakin menjadi seseorang yang memuakkan bagi anak ku. Mungkin aku sudah harus mengakhirinya.”
“Gaek tak boleh berkata begitu. Bukankah hidup adalah perjuangan. Allah memberikan cobaan untuk menguji ketaatan hamba-Nya. Dan Gaek yang dulu terkenal sangat agamais bisa jatuh dengan cobaan sedikit saja dari Allah. Mana pengajian yang selama ini Gaek junjung? Dan menurut saya, anak Gaek yang semestinya menyesal telah menyia-nyiakan Gaek.”
Gaek hanya terdiam. Mengelap sebagian peluh yang mengucur di dahinya. Kemudian memegangi tangan yang sepertinya terasa sakit olehnya.
Gaek menghela nafas panjang. Dia seperti berat untuk mengatakan sesuatu.
“Jika nanti aku tak ada, aku ingin kau memberikan kotak yang ku simpan di pondokku itu kepada anakku Sutinah dan Baron. Aku harap setidaknya mereka mau menerima itu.”
“Apa itu?”
“Tak perlu kau tahu sekarang. Nanti saja setelah aku tak ada. Aku harap kau mau melakukannya.”
Gaek menenggak air ludah yang semakin pahit di mulutnya. Kemudian dia menekur. Tak memandang Mak Kayo barang sedetik pun. Dan Mak Kayo hanya menatapi Gaek dalam-dalam. Tak mengerti apa yang ada di benak lelaki tua itu.
“Oh ya, terima kasih juga atas semua kebaikan mu dan keluargamu. Mudah-mudahan Tuhan itu benar-benar ada untuk membalasnya. Sedangkan aku tak dapat memberikan apa-apa.”
“Sudahlah Gaek tak baik bicara hal-hal seperti itu. Saya menganggap Gaek seperti orang tua sendiri.”

“Hari pun telah siang Gaek, sebentar lagi adzan Zuhur. Lebih baik kita salat. Barangkali itu bisa menghilangkan gundah gelisah Gaek.” Gaek tersenyum.
“Entahlah Kayo aku sendiri tak paham dengan apa yang aku pikirkan. Aku tidak percaya pada Tuhan. Dia tidak pernah ada bukan? Mmm Gaek menghela napas panjang. ”Mungkin karena aku telah lelah,” Gaek melontarkan kata-kata itu di ujung kalimatnya.
Gaek berlalu meninggalkan Mak Kayo menuju pondok reotnya itu. Pondok tua setua dirinya yang sangat butuh penyangga.
***
Siang itu, matahari di atas kepala. Adzan berkumandang menemani matahari meninggalkan puncaknya. Mak Kayo kemarin tidak ke sawah lantaran anaknya sakit. Mak Kayo langsung berteriak memanggil Gaek seperti biasanya. Namun tak lagi ada sahutan.
Sepertinya semua daun berguguran, membuat pondok Gaek semakin kumal dan kotor. Tak seperti ada penghuninya. Kembali Mak Kayo berteriak memanggil Gaek. Makanan ini sudah dingin agaknya jika Gaek terlalu lama menyantapnya.
“Gaek, ambil lah makanan ini. Apa Gaek tidak lapar?”
Tak jua ada sahutan.
”Allahuakbar Allahuakbar Laailahaillallah….”
Kumandang adzan yang menyahut lantang, namun masih juga belum bisa menjadi penyadar bagi Gaek untuk dapat menuju sujud sebenarnya.
Sedangkan sajadah kumal satu-satunya miliknya berada di bawah tubuhnya yang sudah tak berarti lagi.
Padang, September 2008