menyoal CiNta

Antara Buta Cinta dan Cinta Buta

Baru-baru ini media massa baik media cetak maupun media televisi disibukkan dengan berita pernikahan seorang kiai nyentrik dengan seorang gadis cilik. Terang saja pernikahan ini menimbulkan kontra di mana-mana lantaran usia calon mempelai wanita yang jauh di bawah ketentuan UU Pernikahan di negara. Dalam ketentuan Negara Indonesia, seorang wanita boleh menikah setelah menginjak usia 16 tahun ke atas. Namun berbeda halnya dengan Ulfa yang bernama lengkap Lutfiana Ulfa yang masih berusia 12 tahun. Ulfa mau menikah dengan pria bernama lengkap Pujiono Cahyo Widianto yang biasa disebut Syekh Puji yang sudah berkepala 4 (43 tahun).
Kehebohan yang muncul di tengah-tengah masyarakat seketika membungkam ketika Ulfa menyampaikan di depan media kalau ia menolak dipisahkan dengan syekh Puji dan tetap ingin menjadi istri gaek yang disebut-sebut berharta itu. Dengan tenang Ulfa mengatakan “saya heran mengapa orang-orang di luar sana meributkan saya, saya mencintai Syekh Puji.”
Kutipan bocah kecil itulah yang perlu kita tinjau kembali. Kenapa tidak, tau apa seorang bocah akan arti cinta. Kebanyakan, anak usia Ulfa hanya tau istilah cinta monyet. Cinta anak sekolahan yang lebih identik dengan jalan berdua, buat tugas kelompok atau pekerjaan rumah berdua, atau sekedar makan di kantin sekolah berdua. Itu konsep cinta anak usia di bawah 17 tahun. Namun agaknya konsep cinta seorang Ulfa berbeda jenis dan bentuknya. Di sinilah muncul permasalahan yang lebih kepada “apakah cinta itu buta atau si bocah yang buta (tidak tau) dengan apa itu cinta”.
Cinta seyogyanya merupakan perasaan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada setiap manusia. Cinta itu sendiri tidak dapat dipaksakan. Cinta juga merupakan suatu tindakan memberikan kasih sayang bukan memberikan rantai atau sebuah belenggu. Tapi berbeda dengan yang diutarakan oleh kiai gaek itu kalau baginya ia menikahi bocah kecil lantaran untuk membantu ekonomi mereka sekaligus ingin membentuk mereka menjadi seorang istri yang diinginkannya. Jelas saja ini tampak berada di luar jalur arti sebuah cinta. Namun kenyataan itu tak mampu mengukuhkan hati gadis cilik yang sama sekali buta akan cinta tersebut.
Jika kita menilik lebih jauh, tak mungkin seorang gadis cilik mengartikan cinta atau ketertarikannya kepada seorang laki-laki tua untuk menjalin hubungan pernikahan. Dapat diperkirakan ada kesalahan pada pemikiran gadis tersebut. Karena berdasarkan perkembangan psikologis, gadis usia ini berada dalam tahap mengenali lawan jenis dan memiliki rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Keinginan yang muncul sebatas keinginan untuk selalu melihat dan bisa selalu bersama dengan lawan jenis yang disukainya. Ketika sudah menginjak usia 17 tahun ke atas barulah remaja yang sedang berkembang mulai berpikir ke arah yang lebih serius yaitu pernikahan (dan ini wajar).
Kebutaan Ulfa terhadap cinta yang ia rasakan itulah yang harus kita tilik kembali. Mungkin saja cinta yang dimaksud Ulfa hanyalah semacam kekaguman namun ia tak mampu untuk menempatkan posisi yang tepat untuk rasa sukanya yang satu ini. Dan bagi si gaek mestilah menempatkan nafsunya di tempat sewajarnya. Nafsu untuk membentuk karakter seseorang. Apabila ia merasa memiliki cinta maka tak akan ada keinginan untuk menimbulkan belenggu terhadap orang yang dicintai.
Selanjutnya, hal inilah yang perlu menjadi perhatian serius bagi setiap orang tua sekaligus remaja. Setiap orang tua harus bisa masuk menjadi orang tua sekaligus teman bagi anaknya. Orang tua harus menghilangkan sekat antara dia dan anaknya. Zaman sekarang menuntut setiap remaja untuk mampu bergaul dengan siapa saja. Sedangkan jiwa mereka yang labil, yang sedang mencari jati diri itu butuh pendidik yang benar-benar bisa memberikan bimbingan dan contoh yang benar. Jika setiap orang tua bisa memberikan pendidikan mengenai bagaimana seorang remaja berhubungan dengan masyarakat –lawan jenis- nya, bagaimana membedakan antara cinta dengan kekaguman, bagaimana menempatkan perasaan suka terhadap orang lain. Dan apabila ini dapat terpenuhi, otomatis psikologi remaja akan seimbang. Ia akan terarah ke jalan sewajarnya.
Sedangkan bagi remaja, setiap remaja harus memperluas pengetahuannya mengenai hal-hal yang menyangkut perasaan dan psikologi. Bukan sesuatu yang tabu lagi kalau zaman sekarang menuntut remaja mengetahui soal seks, cinta, dan lain sebagainya. Dengan demikian dia dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya.