dalam hening

kehilangan itu pernah aku rasakan
petir menyambar, pondok rubuh, gunung berderai dg laharnya
laut terbelah dua, bahkan semua penghuni hutan berlarian, hama dan debu berhamburan.
tak ada yang dapat mewakilkan
bahkan, jeritan pun tak dapat mewakilkan
kata-kata juga tak kan bisa menguntainya
begitu tak terbayangkannya
untuk ibu…
ku tak mau kehilanganmu
karena ibu, kaulah denyut jantung dan helaan nafasku

sahabat…
kau berada di samping ibuku
kenapa kau bingung tuk goreskan tinta pada sahabatmu
apa tak adalagi kehangatan itu?
lorong…
saat ini aku berada di lorong sempit
ia membuat dadaku sempit
ia membuat dadaku sesak
ingin ku gapai anganku
angan akan kerinduanku pada sahabatku
tapi tangan ini semakin buntung untuk meraihnya
dan aku sepi di keramaian ini…

sahabat…
ingatkah kamu?
tetes airmata yang menemani kita dulu?
untaian bait lagu ikut menghangatkan kita
semua mata pun tertuju pada kita
sahabat…
sekarang dingin sudah semua
aku bagai gajah di pelupuk mata
“tampak tapi tak bermakna”
sahabat
lirihku…
rapuh pula jiwaku
rindu ini mencabik organ tubuhku
bahkan salju itu masuk ke dalam setiap titik pori-poriku
sahabat
aku kedinginan
tanganku membeku
bibirku kelu
kekakuan menghadangku
menghadang cinta kita…
SAHABAT, AKU TAKUT KEHILANGANMU