Demo (Lagi)

tolak BHPAda yang bilang dari kalangan pers, saat mahasiswa UNAND Demo UU BHP di DPRD Provinsi Sumbar hari ini. Mereka bertanya apa segitu aja demo mahasiswa sekarang, belum ada apa-apanya.

Mungkin tanggapan itu bisa diabaiakan sejenak, karena ya namanya wartawan kan harus nyari berita fenomenal. Dan apa yang dilakukan mahasiswa tersebut belum masuk katogori fenomenal.

Meski demikian, ternyata tidak hanya dari kalangan wartawan saja yang mengomentari demo mahasiswa itu, namun dari mantan aktivis mahasiswa pun juga ‘berciloteh’. Kata mereka, mahasiswa sekarang sudah tidak seperti jaman kami dulu. Hah, jaman yang seperti apa bung?

Tapi jika kita melihat lagi latar belakang mahasiswa itu untuk demo, ternyata jawaban mereka, agar aspirasi dan pendapat mahasiswa didengarkan tentang UU BHP tersebut, terlepas dari seberapa jauh mereka ingin menyampaikan aspirasi tersebut. Llantas output apa yang mereka inginkan dari demo itu?

Maka wajar saja orang berpendapat, untuk apa demo kalau tidak bisa mengubah apapun. Kongkritnya seperti ini, jika hanya ingin menyampaikan aspirasi, bukankah lebih baik memilih cara lain. Salah satunya diskusi atau mediasi dengan anggota Dewan. Toh nanti itu hasilnya sama saja, hanya untuk menyampaikan aspirasi belaka.

Ini yang dimaksud ‘kawan’ saya tadi yang mengatakan, tidak seperti mahasiswa jaman dia dulu. Mahasiswa sekarang lebih melempem. Lembek dan tidak menggigit. Yang pasti substansi pergerakan tidak lagi terlihat. Dari apa yang mereka lakukan ternyata sangat jauh sekali dari yang diharapkan.

Contohnya saja demo tersebut. Hampir seratus mahasiswa yang hadir di sana. Entahlah mereka cuman ingin ikut atau apalah namanya, yang pasti itu satu hal yang sangat tidak efektif. Dari segi waktu, jumlah personil, tenaga dan biaya, jika dibandingkan dengan output yang mereka dapatkan nantinya.

Lalu pertanyaannya? Untuk apa mereka masih ingin berdemo. Lagipula apa yang mereka sampaikan itu adalah menentang atau ingin mengkaji ulang sebuah Undang-undang.

Kalau Rektor UNP, dia bilang bahwa mahasiswa bisa melakukan uji materi pada Komisi Yudisial dan katanya neh ya, (dari Haluan Rabu 24 Des 2008) beliau juga bersedia mendampingi mahasiswa, jika ingin melakukan uji materi tersebut. Tapi sejauh apa peluang yang bisa didapatkan mahasiswa untuk terciptanya perbaikan atau pun revisi Undang-undang tersebut. Mungkin nanti pakar Ketatanegraan bisa menjawabnya lebih lengkap. Namun prediksi saya dengan melihat kondisi mahasiswa kini, maka perubahan itu akan sangat lama bisa terwujud.

Faktor lainnya yang menguatkan pendapat saya tentang, bakal lamanya terwujud keinginan mahasiswa tersebut salah satunya, karena mahasiswa di provinsi lainnya sudah lebih dulu mengangkat isu tersebut, bahkan juga sebelum di sahkannya UU itu pada tanggal 17 Desember lalu. Kemudian mahasiswa Sumbar? Benar, juga sudah melakukannya. Tapi kalau diistilahkan, yang lebih tepat itu pergerakan mahasiswa disebut “angek-angek cirik ayam”.

Misalnya saja demo terakhir pada dua tahun lalu di Kantor Gubernur Sumbar, setelah mahasiswa se Sumbar itu ditemui Sekdaprov, kemudian mereka hanya hening-hening saja setelah itu. Padahal saat itu ada perjanjian, bahwa tuntutan mereka harus ditindaklanjuti. Tapi apa? Hingga sekarang orang-orang yang dulu selalu ribut soal tuntutan itu di depan ratusan mahasiswa, juga tidak berbuat apa-apa. Padahal ia masih jadi mahasiswa dan ikut dalam demo hari terakhir ini.

Sudahlah kita membahas yang telah lalu itu, capek saya. Lebih baik kita cari cara yang baru untuk pergerakan mahasiswa ini. Usul dari saya seperti ini, jika mahasiswa ingin aspirasi atau hanya menyampaikan pendapat lebih baik cari jalan yang lebih sederhana. Saya ingatkan, hal ini bukan berarti pergerakan mahasiswa mengarah ke pragmatis! Seperti contohnya, melakukan mediasi, diskusi publik atau jajak pendapat. Disesuai dengan taraf mahasiswa sekarang lah, pokoknya.reformasi98

Demo itu jaman dulu kala, tidak usah kita mengulang keberhasilan mereka (aktivis mahasiswa jaman dulu itu) lagi. Biarlah itu menjadi prestasi mereka. Lagipula sebuah keberhasilan tak akan tercapai serupa untuk kedua kalinya. Apalagi, kalau dilihat kondisi sekarang yang mahasiswanya ‘malu-malu takut’ untuk berdemo, ya mbok lebih baik di kampus aja. Pilih alternatif yang tadi.

Untuk gaung (hebohnya) pergerakan yang teman-teman mahasiswa lakukan, jangan kahwatir. Ada pers, yang bisa dan siap selalu memberitakan setiap aspirasi tersebut. Dan itu juga berarti tidak hanya diketahui lingkungan saja, namun juga masyarakat di belahan Indonesia bahkan dunia lainnya. Yang pasti, menurut saya, hal itu jauh lebih efektif daripada demonstrasi.

Jangan takut kalau nanti itu dibilang mahasiswa Sumbar tidak pernah demo lagi karena pengecut turun ke jalan. Itu hal yang biasa terjadi, jika mereka tidak tahu apa yang telah dilakukan atau perubahan apa yang mahasiswa Sumbar pilih untuk menyampaikan aspirasi, yang mungkin saja lebih bijak dari yang mereka lakukan itu.

Kalau saya pribadi lebih memilih cara baru dan konsentrasi di cara tersebut karena sekarang ini kan juga banyak mahasiswa yang di saat hangat-hangatnya sebuah isu maka berduyun-duyun ke sana, kemudian setelah itu menguap tak tahu awannya. Mungkin saja nanti itu bisa menciptakan suasana demokrasi baru di Indonesia ini. Tapi takutlah kawan-kawan mahasiswa, jika di kampus masing-masing tidak ada lagi waktu yang dikhususkan untuk memikirkan bangsa ini. Alamat agent of change and social control bakal tidak lagi melekat di kampus saudara.

Dan terakhir yang membuat saya sangat heran, mengapa mahasiswa sekarang sangat jarang sekali memanfaatkan media massa untuk pergerakannya (bisa saja lewat tulisan atau yang lainnya). Bahkan tak jarang prediket mahasiswa itu dilecehkan atau pun berbagai titel (terutama sebagai mahasiswa apatis) melekat di tubuh mahasiwa, yang memang tak ingin tahu apapun atau tidak bertindak dan melawan ketidakbenaran itu. Atau, apa benar mahasiswa sekarang memang seperti yang yang terucap dari bibir atau tertuang dalam tulisan orang-orang tersebut, yang mengatakan bahwa mahasiswa tidak lagi malu kena sindir.

Entahlah! Bahkan tulisan saya ini bakal dikritik atau dicacimaki oleh mahasiswa sekarang, saya juga tidak tahu. Tapi kalau memang ada cacimaki atau ketidaksukaan, malah saya akan sangat bersyukur sekali, berarti apa yang saya sampaikan itu ada salahnya. Namun jika tidak ada sama sekali. Hmmmm, entahlah, mungkin saya akan terus menulis seperti ini. Hahahaha🙂