Menggugat Sejarah Versi Militer

Judul Buku : Ketika Sejarah Berseragam (Edisi Terjemahan):
Membongkar Ideologi Militer dalam Menyusun Sejarah Indonesia
Penulis : Katharine E. Mc Gregor
Penerbit : Syarikat
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal : xxvii + 459 halaman
Harga : Rp 55.000,-

sjrh2Sejarah merupakan elemen penting dalam sebuah negara. Bahkan, telah dikatakan bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarahnya. Mengapa sejarah itu penting dan mengapa kita harus peduli pada sejarah? Ini dikarekanakan keyakinan bahwa manusia berbeda dengan binatang yang hanya mampu berpikir tentang masa kini mereka. Perbedaan manusia dengan binatang adalah kemampuannya melakukan refleksi-masa lalu, masa kini dan masa depan-dalam kehidupan mereka. Tapi, apa jadinya ketika sejarah itu direkayasa demi kepentingan sang penguasa waktu itu?
Di Indonesia, rezim penguasa Orde Baru—dengan doktrin sejarah demi masa kini yang diplintir untuk kepentingan kekuasaan sesaaat—turut menyumbang kedangkalan terhadap pemahaman sejarah bangsa kita. Hal ini telah dibuktikan oleh Katharine E. Mc. Gregor dalam bukunya ini. Walaupun penelitian tentang tentang kiprah militer di Indonesia bukan hal baru, karya ini memberikan perspektif baru tentang tafsir terhadap sejarah utuk kepentingannya.
Pasca orde baru banyak kajian yang menyoroti keterlibatan kaum militer dalam berbagai ranah kehidupan kenegaraan bangsa ini. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari menguatnya peran militer pasca 1965 yang bermetamorfosa menjadi kekuatan yang menggurita dalam setiap sektor kehidupan, sehingga ada yang mengatakan bahwa pada masa orde baru militer Indonesia tak ubahnya seperti sebuah Negara dalam Negara.
Banyak bukti yang disampaikan Katharine E. Mc Gregor dalam karyanya yang berasal dari hasil disertasinya di sebuah universitas di Australia. Buku ini menceritakan tentang bagaimana sejarah di Indonesia dibangun, sebagai representasi sebuah usaha mempertahankan kekuasaan_orde baru. Buku yang terlebih dahulu terbit menggunakan bahasa Inggris tahun 2007 dengan judul History in Uniform: Military Ideologi and the construction of indonesia’s past ini, juga menyuguhkan bagaimana dampak dari usaha militer Indonesia tersebut.
Satu hal yang juga mengejutkan dalam buku ini adalah uraian Penulis tentang seorang tokoh di balik propaganda ini, yaitu Nugroho Notosusanto. Ia lahir di Rembang, Jawa Tengah pada tanggal 15 Juli 1930. Ayah Nogroho bernama R.P. Notosusanto yang mempunyai kedudukan terhormat, yaitu seorang ahli hukum Islam, Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada, dan seorang pendiri UGM. Sebagai seorang sejarahwan, Nugroho dimanfaatkan oleh ABRI maupun Orde Baru untuk menulis sejarah menurut versi pihak-pihak tersebut. Pada 1964 ABRI menggunakan Nugroho untuk menyusun sejarah militer menurut versi militer karena khawatir bahwa sejarah yang akan disusun oleh pihak Front Nasional yang dikenal sebagai kelompok kiri pada masa itu akan menulis Peristiwa Madiun secara berbeda, sementara militer lebih suka melukiskannya sebagai suatu pemberontakan pihak komunis melawan pemerintah.
Ditulis Katharine, didirikannya Pusat Sejarah ABRI pada tahun 1964 ternyata sangat bermanfaat bagi militer, karena setahun kemudian usaha kudeta terjadi. Nugroho Notosuanto sebagai Kepala Pusat merupakan penulis utama terbitan pertama versi kisah usaha kudeta. 40 Hari Kegagalan ”G-30-S” 1 Oktober-10 November penting karena buku ini mengkonsolidasi propaganda Angkatan Darat mengenai kudeta dan menyajikan laporan yang kronologis mengenai keterlibatan PKI. Buku ini juga menjadi dasar versi resmi Orde Baru tentang kisah usaha kudeta untuk tiga puluh tahun selanjutnya.
Gambaran tentang usaha kudeta sangat penting bagi legitimasi rezim dan bagi pelarangan terhadap PKI dan untuk membenarkan penghancuran partai ini. Untuk tujuan-tujuan inilah militer meneruskan membela dan mengulang-ulang narasi ini dalam bentuk tertulis dan visual sepanjang rezim berkuasa. Usaha mempertahankan legitimasi ini untuk dunia luar dilakukan melalui terbitan versi kisah usaha kudeta dalam bahasa inggris, ditulis oleh Nugroho Notosusanta dan Ismail Saleh dengan bantuan pemerintah Amerika Serikat, sebagai tanggapan terhadap munculnya Makalah Cornell (Cornell Paper). Cara versi kisah kudeta ini diperingati di lokasi Lubang Buaya juga menunjukkan betapa besarnya rezim ingin menanamkan versi mereka mengenai sejarah. Kenyataan bahwa antikomunisme dapat hidup lebih lama daripada orde baru juga menandakan bahwa proyek militer berhasil.
Akan tetapi, banyak orang Indonesia mempertanyakan versi sejarah masa lalu ini karena versi tersebut dipaksakan kepada mereka. Walaupun dalam era pasca-soeharto timbul pertanyaan mengenai kebenaran versi resmi kisah usaha kudeta, sejumlah orang tetap setia kepada versi resmi ini, maupun kepada anti-komunisme karena mereka sudah menetapkan berbagai makna masing-masing tentang masa lalu ini. Bagi mantan tapol dan mereka yang kehilangan anggota keluarganya dalam pembunuan massal, hal ini sangat merugikan dan mendorong mereka menjadi orang paria.
Gambaran mengenai usaha kudeta menceritakan jauh lebih banyak tentang rezim orde baru daripada mengenai kudeta itu sendiri. Versi resmi tentang kisah usaha kudeta digunakan untuk menetapkan nilai-nilai inti, termasuk komitmen kepada agama dan moralitas. Sumur yang dilestarikan di Lubang Buaya ingin mengingatkan orang Indonesia akan martir Angkatan Darat yang dikatakan tewas secara mengerikan di tangan kaum komunis, dan cungkup di atas sumur ingin mengingatkan akan bimbingan Allah dalam penemuan kembali jenazah martir Angkatan Darat. Relief di bawah Monumen Pancasila Sakti menceritakan perjalan menuju krisis nasional di bawah pimpinan Soekarno dan pengaruh komunis yang tidak bermoral.
Tak hanya itu, masih banyak lagi sejarah versi militer yang diungkapkan Katharine dalam karyanya ini. Intinya, ciri dari historiografi nasional yang dibentuk selama masa Orde Baru Suharto adalah sentralitas negara yang diejawantahkan oleh militer. Sejarah nasional disamakan dengan sejarah militer dan produksi sejarah dikendalikan oleh negara dan militer.
Terlepas dari kecerdasan militer dalam membodohkan anak bangsa_yang mempelajari sejarah itu_ karena mengabdi kepada kekuasaan orde baru waktu itu, buku ini menarik untuk dibaca, terutama generasi muda. Selain itu, karya ini diharapkan juga mampu menghimbau pakar sejarah untuk menjelaskan masa lalu yang sebenarnya.