Dua Kali Turun Tetapi Sama Saja

images2Sudah dua kali pemerintah menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM): bensin menjadi Rp. 5000 dan Solar Rp. 4800. Namun masih banyak harga yang belum disesuaikan, tarif angkutan umum misalnya.
Praktisi angkutan umum agaknya bersikap tidak “Sportif”. Ketika BBM ditetapkan naik, buru-buru mereka menaikkan tarif. Namun saat harga minyak dunia turun yang berdampak juga pada diturunkannya harga BBM di Indonesia, mereka terkesan hening-hening saja dan tetap bertahan dengan ongkos trayeknya yang lama.
Akibatnya masyarakat juga yang kembali terkena imbasnya—korban ketidakadilan tepatnya. Saat harga BBM naik, secara hampir spontan masyarakat dibebankan merogoh sakunya lebih dalam untuk menyesuaikannya. Selanjutnya ironi, ketika harga BBM sudah diturunkan, bahkan dua kali sekali pun, masyarakat tetap dibebankan dengan kondisi yang sama ketika harga BBM dinaikkan.
Pihak terkait dalam angkutan umum ini beralasan, penurunan harga BBM sekarang hanya mempengaruhi 30% dari total keseluruhan sehingga tarif dapat diturunkan. Jadi kemungkinan untuk menurunkan biaya angkutan umum bisa dilakukan tetapi nominalnya tidak terlalu signifikan.
Namun apa pun yang melatarbelakanginya, khusus buat kota Padang, Pemerintah Daerah (Pemda) melalui wali kotanya sepertinya lamban mengatasi masalah ini. Sudah hampir sebulan paska penurunan harga BBM tempo lalu tetapi belum juga ada keputusan penyesuaian. Pemda terlalu lama mengambil sikap dari persoalan yang sebenarnya sangat mendesak.
Untuk itu Pemda harus merundingkan dan merumuskan tarif ini segera dengan pihak-pihak yang berwenang. Dengan harapan, agar dalam waktu seminggu sudah diperoleh hasil penyesuaiannya. Lebih cepat dari seminggu juga lebih baik. Jika tidak, perihal ini hanya akan tinggal menunggu bom waktu.