Islam Tidak Melarang Cinta

cinta22Islam tidak melarang cinta. Namun Islam melarang melampaui batas karena cinta dalam bentuk apapun, baik dengan pendengaran, ucapan, maupun sentuhan yang tidak diperkenanan syara’

Kalau pandangan yang terus menerus saja dilarang dalam Islam, lalu bagaimana dengan pertemuan yang tidak dibolehkan syara’? Nabi bersabda

”Wahai Ali, janganlah kau ikuti pandangan pertama dengan pandangan kedua. Karena pandangan pertama adalah bagimu dan pandangan yang kemudian bukanlah bagimu.” (HR. Tirmidzi dihasankan oleh Al-Albani)

Dari Abdullah bin Mas’ud., bahwa ia berkata: ”Rasulullah SAW telah bersabda: ”Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lainnya kemudian melukiskan kepada suaminya (keadaan wanita tersebut) seakan-akan suaminya melihat wanita itu (HR. Bukhari)

Maksudnya, janganlah seorang istri menceritakan perihal wanita lain kepada suaminya sehingga seakan-akan suaminya melihat wanita tersebut. Wahai Pencinta!… kiaskanlah keadaanmu dengan hadist ini agar kamu mengetahui batas-batas hakmu bersama gadis yang kau cintai. Perhatikanlah juga keadaanmu wahai saudariku yang sedang kasmaran dengan membandingakan keadaanmu terhadap hadist ini agar kamu mengetahui batasan-batasan hakmu bersama dengan orang yang kau cintai.

Sebagaimana telah kami katakan bahwa dalam Islam menegakkan kehidupan berdasrkan cinta dan kasih sayang yang sidyariatkan. Rasulullah SAW sendiri sangat mencintai khadijah. Beliau bersabda:

Allah tidak memberikan kepadaku ganti yang lebih baik daripada dia. Ia telah beriman kepadaku ketika orang lain mengingkariku. Ia membenaranku ketika orang-orang mendustakanku, ia menolongku dengan hartanya ketika orang lain menghalangiku. Allah menganugerahkan anak-anaknya untukku dan di menghalangiku dari anak-anak yang lain.” (HR. Ahmad)

Pada suatu hari, sesudah wafatnya Khadijah, tampak Halah binti khuwailid, saudari khadijah bertamu ke rumah ’Aisyah sementara pada saat itu Rasulullah SAW sedang berada di halaman. Halahpun mengucapkan salam sedangkan suaranya mirip dengan suara Khadijah, sang istri yang mulia, berharga dan kekasih hati Nabi SAW. Hati Nabi bergetar seketika sehingga lidahnya mengucapkan: ”Ya Allah, Halah,” Dalam riwayat Muslim disebutkan:”Ya Allah Halah Binti Khuwailid.” ’Aisyah berkata:”Aku menjadi cemburu dan berkata: ’Apakah yag membuatmu terus teringat kepada salah satu wanita tua Quraisy yang merah sudut mulutnya (kinayah terhadap lanjut usianya) dan telah meningal dunia, sedangkan Allah telah memberikan ganti yang lebih baik untukmu daripadanya (karena Aisyah masih sangat muda dan cantik).” Rasulullah SAW mwnjdai sangan marah dan bersabda: ”Demi Allah, Allah tidak memberikan ganti yang lebih baik daripada dia…………(sesuai dengan hadist riwayat Ahmad di atas, yang juga diriwayatkan Muslim).

Apabila Rasulullah SAW menyembelih seekor kambing, beliau bersabda: ”kirimkanlah untuk sahabat-sahabat Khadijah.” ’Aisyah berkata:”Pada suatu hari akue membuatnya marah dengan berkata: ”Khadijah?” Rasulullah SAW bersabda: ”Aku telah dikaruniai perasan cinta kepadanya.” (HR Muslim)

Wahai saudaraku muslim, bisakah engkau melukiskan cinta ini?

Wahai saudariku Muslimah bisakah engkau melukiskan cinta ini?

Adakah di antara kita yang menginginkan cinta seperti Rasulullah SAW kepada Khadijah?

Barangsiapa yang mengatakan bahwa Islam melarang cinta maka ia telah keliru. Islam senantiasa beriringan dengan cinta suci dan terjaga lagi mulia yang tidak lekang oleh waktu, tidak pudar karena menikah dengan wanita yang muda lagi cantik, tidak digoyahkan oleh kekayaan setelah sebelumnya miskin, tidak diubah oleh sakit sesudah sehat, dan tidak pula mampu digeser mati sesudah hidup.

Dikutip dari buku “Menuntun Cinta Menuju Surga”