OPERASI CCETAK

exam-stress-funny-answers

Uh…

Jarum jam bagai mengejekku. Sedari 00.00 dia memerhatikanku, memencet nomor ini itu pada kalkulator yang setia menemaniku selain kuitansi-kuitansi yang selalu memenuhi isi tasku. Ku coba lagi list angka-angka lain, mana yang aku butuhkan dan dari mana aku bisa mendapatkannya. Ku coba hitung lagi, lagi-lagi ku coba menghitung apakah uang yang ada mencukupi untuk keperluan operasi untuk kali kesekiannya.

Operasi kali ini, aku dan teman-teman harus lebih berjuang keras agar CINTA kami bisa operasi. Dengan CINTA bisa dioperasi, kami akan bahagia. Karena dengan jalan operasi ini CINTA akan tetap bersama kami. Tetap menjadi bagian dalam hidup, yang mungkin dengan sepenuh hati dan penuh keikhlasan kami dapat mencurahkan apa yang dapat kami berikan.

Meski CINTA baru hadir dalam kehidupanku dan teman-teman lainnya, tetapi dia telah mengisi hari-hariku dan teman-teman untuk bisa merasakan suka dukanya kehidupan. Hanya dengan makan beberapa suap saja, mencicipi kebahagian bagian yang lain, berbagi kepiluan bersama dan menyatukan pengorbanan buat CINTA, kami tetap bahagia.

Kisah-kisah indah itu membuatku pilu. Ku takut CINTA tidak bisa menjalani operasi kali ini. Meski kami harus mencari uang lebih, kami akan lakukan demi CINTA. Satu-satunya kebahagian saat ini adalah jika CINTA bisa menjalani operasinya. Meski untuk seterusnya CINTA akan selalu dioperasi dan akan tetap menjalani operasi. Karena saat ini, memang tidak ada uang.

Aku juga sudah ngomong masalah ini dengan salah satu sahabatku Anggi. Jawaban Anggi sedikit menyejukkan dan memberi peluang untuk dilakukan operasi. “Anggi sudah mengandalkan adik-adik Anggi yang kebetulan mereka berada di EventOrganisasion”, ucap Anggi dengan senyum andalannya. Kesejukanku rasakan dari senyuman Anggi, yang masih bisa menenangkan diri dalam situasi ini.

Lain dengan kak Titi, sepertinya kak Titi sedikit berubah. Lebih sering diam dan cemberut. Mungkin kak Titi lagi berpikir dan bekerja keras agar tetap dilakukannya operasi. Rasanya ingin memeluk kak Titi, tapi aku tak tahu bagaimana cara memulainya. Aku lihat kak Titi akan sangat terpukul jika CINTA tidak jadi di operasi. Namun aku tidak punya kata-kata yang dapat menyakinkan kak Titi.

Malah dalam situasi aku bimbang ini, kak Titi semakin diam padaku. Sampai kak Titi pernah berpikir aku kabur dalam masalah keuangan ini. Mustahil kak, aku akan kabur. Hanya demi CINTA aku kembali.
Jika kak Titi tahu, aku juga lagi berusaha untuk mendapatkan biaya operasi CINTA. Ada salah satu kakak yang pernah menjadi bagian dari CINTA menawarkan solusi, meski tidak dalam bentuk uang. Namun itu dapat kita lakukan jika kita bersatu.

Namun, buat semua terutama kak Titi, tetap semangat dan optimis. Karena hari-hari itu hanya tinggal beberapa putaran jarum jam.