Mahasiswa Kini (3)

imagesKenapa mahasiswa kini tiga? Sederhana saja, karena sebelumnya sudah ada dua tulisan saya yang juga Mahasiswa Kini.

Sangat menarik jika kita selalu melihat mahasiswa dari kekiniannya. Percaya kan kawanku, bahwa ketika mahasiswa mulai ‘kehilangan’ fungsi kontrol sosialnya maka harus ada yang mengingatkan. Dan kali ini saya ingin menjadi orang yang ‘mengingatkan’ tersebut.

Mahasiswa kini seperti kehilangan ‘ruh’ pergerakannya. Disaat di kampus lain sibuk demo BHPT, yang memang sudah jadi ‘musuh’ mahasiswa dari sejak dulunya, lalu di Sumbar? Ya mereka juga membahasnya dan terlibat dalam momen tersebut. Tapi dengan cara yang berbeda.

Mungkin cara yang berbeda yang dilakukan oleh mahasiswa Sumbar ini, dianggap lebih intelektual, atau alternatif pilihan yang bisa membuka wacana dengan cara yang lebih santun: melakukan audensi.

Memang bukan saatnya lagi berdemo atau turun ke jalan. Tapi kondisi ini hanya berlaku jika memang tidak ada tuntutan yang mendesak. Artinya, yang akan dituntut itu hanyalah sebatas untuk membuka wacana saja? Ataupun pelepas tanya mahasiswa daerah lain, ketika nanti mereka bertanya apa yang dilakukan mahasiswa Sumbar di saat mahasiswa lainnya berdemo menolak BHPT.

Sekarang kita bahas mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP) yang dulu pernah menjadi tempat saya bernaung dan bergulat dengan pahit getirnya kondisi kampus.

Ada semacam kebingungan mahasiswa atau bisa dikatakan mahasiswa yang dilematis, sekarang ini. Antara tugasnya untuk menyelesaikan perkuliahan, berbuat kreatif, dan melakukan pergerakan. Tidak ada ketegasan fungsi mahasiswa kalau saya lihat sekarang ini.

Di sebuah kampus mengadakan pertandingan olahraga yang padahal mereka bukan berasal dari kampus olahraga sama sekali. Lalu adapula yang mengadakan lomba menyanyi yang padahal mereka bukanlah kampus menyanyi atau jurusan seni dan persoalan lainnya yang membuat mahasiswa harus ‘lintas’ disiplin ilmu.

Lalu apa yang ingin mereka tuju dengan mengadakan lomba yang notabene bukan ‘keahlian’ mereka. Entahlah, tapi yang saya lihat sudah tidak berfungsinya proses pembelajaran di sana. Apakah benar yang mereka lakukan di kampus itu (mengadakan lomba) yang dibutuhkan mahasiswanya?

Miris saja kalau saya melihat. Dari rangkaian kegiatan mahasiswa tersebut, mereka memilih pertandingan olahraga ataupun lomba menyanyi. Kenapa? Ya sederhana saja karena menurut saya kenapa mereka tidak mengedepankan atau mendahulukan apa yang sesuai dengan latar belakang mereka sebagai mahasiswa.

Mudahnya seperti ini. Kenapa mereka tidak melakukan debat mahasiswa tentang budaya Minangkabau, jika ingin mahasiswa mengenal budaya mereka sendiri (Minangkabau) atau jika menginginkan itu sebagai sebuah pembelajaran pendidikan budaya. Ataupun kenapa mereka tidak melakukan seminar atau workshop yang berhubungan dengan teknik. Atau mereka sudah jenuh dengan kegiatan tersebut.

Baguslah kalau memang mereka telah jenuh mengadakan segala sesuatu bentuk seminar ataupun workhsop. Karena memang begitulah seorang anak manusia itu, yang selau jenuh jika mereka tidak mendapatkan apa-apa dari yang mereka lakukan itu. Atau ingin sesuatu perubahan dan agar tidak monton.

Tapi apakah mereka bertanya ke mahasiswa, benarkah mahasiswa lainnya itu juga jenuh dengan seminar atau workshop. Jadi, yang mengatakan mahasiswa tidak menyukai seminar atau workshop itu hanya segelintir, dan parahnya lagi, yang segelintir itu adalah para mahasiswa yang telah jadi aktivis kampus. Yang berarti akan diikuti mahasiswa lainya.

Bukan maksud saya untuk melarang mahasiswa yang ‘lintas’ ilmu seperti di atas itu. Tapi di sini saya melihat lemahnya koordinasi antar mahasiswa satu fakultas dengan fakultas lainnya. Di saat mahasiswa di fakultas lain lebih cocok dan pantas mengadakan acara atau kegiatan itu, lalu kenapa mahasiswa fakultas lain yang notabene tidak pernah mendapatkan pembelajaran itu?

Padahal mereka bisa berkoordinasi dengan fakultas yang memang bergerak dalam bidang itu, bahkan mereka juga bisa terlibat di dalam keseluruhan proses, itu jika mereka benar-benar ingin fokus dalam bidang yang tidak pernah didapatkannya di fakultasnya.

Tetapi  mahasiswa sekarang terlalu enggan untuk mau bergabung dengan mahasiswa di fakultas lainnya ataupun untuk bekerjasama dengan fakultas lain. Pengkotakan fakultas telah membuat mahasiswa berada di tembok angkuh fakultasnya. Entahlah, kapan itu berakhir. Yang pasti itu telah membuat mahasiswa tidak pernah mengenal ilmu mahasiswa di fakultas lain.***