Memulai menulis dalam Bahasa Inggris (Part II)

Bisa dikatakan, awal ketertarikan saya terhadap bahasa Inggris ini dimulai ketika saya menerjemahkan buku-buku berbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Satu hal yang selalu saya yakini adalah, bahwa tiap kali saya menerjemahkan ataupun membaca kalimat dalam bahasa Inggris, setidaknya tiap itu pula saya mendapatkan kosa kata baru. Karena itu, jika ada tugas terjemahan ketika kuliah, saya juga senang membantu teman-teman lainnya untuk menerjemahkan tugas mereka. Apalagi ditambah dengan bayaran. Hehe.

Hal lainnya yang membuat saya bertambah senang ketika menerjemahkan sebuah tugas atau tulisan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia adalah karena adanya google translet. Untuk hal ini mungkin saya harus berterimakasih kepada Bos Adriyanto atas batuannya memberitahukan fasilitas dari google tersebut ketika jaman dulu kala :D

Penyembang terbesar kemampuan saya dalam menulis atau pengetahuan saya akan kosakata baru dalam bahasa Inggris bisa dikatakan berasal dari Google Translate itu. Pertanyaannya sekarang, apakah salah jika saya menulis dalam Bahasa Inggris menggunakan fasilitas dari Google itu? Kalau menurut ya, memang salah, jika kita tidak sedang online karena hal itu tidak mungkin dilakukan. Hehe. Artinya, kita tidak bisa lagi menulis sebaik, jika kita menggunakan fasilitas translet itu.

Jadi, kalau saya menyimpulkan, tidak ada masalah sepanjang kita mengerti apa yang kita terjemahkan dan yang tidak kalah pentingnya, responden kita mengerti apa yang kita tulis. Jika kita atau orang lain tidak mengerti dengan apa yang kita tulis, berarti itu memang ada yang salah baik dari segi menterjemahkannya atau dari kalimat yang kita gunakan.

Saya pribadi menggunakan Google Translate tersebut ketika saya tidak tahu padanan sebuah kata dalam Bahasa Inggris. Namun tidak hanya itu, jika satu kalimat mungkin kamus juga bisa membantu tapi kemampuan Google ini lebih dari itu, ia bisa menerjemahkan sebuah kalimat, sebuah tulisan, bahkan satu buah artikel dengan baik. Apalagi tulisan yang akan kita terjemahkan bersifat umum. Ini menjadi sangat mudah sekali.

Meskipun fasilitas terjemahan yang saya gunakan begitu mewah,setidaknya menurut saya, namun saya tentu juga mesti hati-hati. Maksud saya begini, ketika saya melakukan terjemahan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia, saya menemui banyak kesalahan yang dilakukan oleh Google. Memang tulisan yang saya terjemahkan itu bersifat khusus yakni tentang olahraga. Namun dari kesalahan terjemahan itulah saya bisa belajar bagaimana tentang susunan kalimat yang diartikannya dari Bahasa Inggris menjadi Bahasa Indonesia.

Learning by doing. Kurang lebih artinya “belajar dari apa yang telah kita lakukan” atau arti lainnya secara harifiah, lakukan terlebih dulu maka kamu akan mendapatkan pelajaran darinya. Jadi, yang saya maksud dengan belajar dari kesalahan terjemahan yang dilakukan oleh Google, saya menemukan bahwa kalimat setelah ia artikan (ke dalam Bahasa Indonesia) tidak logis. Tidak sesuai dengan logika kita yang terbiasa berbicara dengan Bahasa Indonesia. Nah, dengan demikian berarti saya tinggal menjadikan terjemahan tersebut lebih logis. Lebih masuk di akal.

Begitu pula, menurut saya, apa yang dialami oleh orang asing ketika mereka menerjemahkan bahasa kita ke dalam bahasa mereka sendiri. Misalnya ke dalam Bahasa Inggris. Kalimat yang mereka artikan seringkali tidak masuk akal. Tidak logis. Karena susunan kata yang mereka terjemahkan menjadi terbalik-balik. Nah, bukankah ini suatu yang wajar bagi seseorang yang sedang belajar. Jadi selama ini kita hanya terlalu sering menghukum diri kita sendiri dan membatasi kemampuan kita yang sebenarnya memiliki potensi besar.

Lantas bagaimana membuat kalimat atau tulisan dalam Bahasa Inggris agar lebih logis atau masuk di akal. Saya tidak punya teori tentang hal ini, karena saya telah melupakan pelajaran Bahasa Inggris waktu SMA dulu. Namun saya mungkin hanya bisa menyebutkan bagaimana saya pribadi menyikapinya. Mundur sejenak, sejak kecil saya senang nonton film asing (film berbahasa Inggris) kemudian mengingat-ingat beberapa kalimat yang mereka sebutkan dan bagaimana mereka menyebutkannya. Kalimat yang paling mudah dihafal adalah kalimat yang paling sering diucapkan dan itu adalah kalimat cacian mereka.

Yap benar. Kita manusia memang belajar melalui contoh. Ini sudah seperti hukum alam. Setidaknya televisi tidak hanya memberi pengaruh buruk, namun juga memberi manfaat bagi saya pribadi. Melalui film itt saya memahami bahwa susunan kalimat Bahasa Inggris itu sering terbalik-balik jika kita artikan per katanya. Maaf saya tidak berikan contoh, karena untuk sementara saya anggap semua mengetahui hal ini jika Anda sudah memiliki akun facebook. Cobalah Anda cari apa arti facebook itu?

Dengan demikian, menurut saya jika kita benar-benar ingin belajar menulis dalam Bahasa Inggris, maka kita jangan terlebih dulu memberi beban kepada diri kita sendiri dengan tetek bengek dan aturan penulisan tersebut. Karena, ketika saya belajar menulis pun, saya tidak pernah dibebani dengan yang namanya susunan kalimat ini itu atau SPOK. Melainkan, saya hanya diminta untuk menuliskan apa yang ada dipikiran saya dan apa yang ingin saya tulis atau ceritakan (mengarang indah). Karena syarat utama dalam untuk mulai menulis bukanlah bagaimana cara menghasilkan kalimat yang benar dan sesuai kaedah bahasa yang berlaku melainkan menghasilkan sebuah ide atau cerita yang menurut kita menarik. Setelah seperti ini, maka tangan kita tak akan pernah berhenti menulis.

Jadi jangan lagi memilih menjadi penulis yang mengutamakan tata bahasa melainkan menjadi penulis yang lebih mengutamakan penuangan ide-ide dan pemikiran yang cemerlang melalui tulisan. Selamat berkarya ^_^

Silakan bergabung di http://writer.or.id/

Salam

Writer’s Club Indonesia